Selasa, 24 Januari 2012

DIALOG PAPUA!

 .
Hingga kini, Papua masih saja bergejolak akibat ulah kelompok separatis Papua. Berbagai gangguan keamanan yang dilakukan kelompok bersenjata (baca: OPM) secara sporadis masih saja terjadi di beberapa wilayah di propinsi ujung timur Indonesia ini. Seiring dengan itu, di perkotaan (baca: di lingkungan kaum terdidik) mengemuka tuntutan untuk dilakukannya dialog nasional antara pemerintah pusat  rakyat papua



Sejarah dan status politik Papua yang terus diperdebatkan di kalangan orang Papua, khususnya berkaitan dengan pelaksanaan Act of Free Choice (Pepera)  pada 1969 yang menghasilkan integrasi (reintegrasi) Papua ke Indonesia dan kegagalan pembangunan berkaitan dengan implementasi UU Otsus Papua, terutama bila dilihat   dari keberhasilan/kegagalan di empat sector prioritas: pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi rakyat, dan pembangunan infrastruktur adalah beberapa isu yang diinginkan untuk diangkat dalam wacana forum dialog Jakarta Papua.
 Namun satu hal yang harus diingat bahwa DIALOG bukanlah solusi, melainkan media atau forum yang disediakan untuk memulai kebuntuan komunikasi  politik antara Jakarta dan Papua. Komunikasi yang lebih intens dan reguler menjadi penting dalam rangka mengatasi: ketegangan, saling curiga, dan saling tidak percaya antara Jakarta dan Papua selama ini.
Dialog damai bukan sesuatu yang instan, melainkan proses panjang yang harus dipersiapkan secara matang. Meskipun rumit, dialog sangat mungkin dilakukan dengan terlebih dulu menciptakan kondisi-kondisi yang membuat para pihak semakin yakin untuk berdialog.
Dari seluruh proses damai dan terutama untuk menuju dialog damai antara Jakarta dan Papua, hal terpenting adalah semua pihak harus memiliki pemahaman yang sama mengenai makna dan urgensi dialog.
Esensi dialog adalah sebuah media, alat, cara berkomunikasi bagi para pihak untuk mulai membuka diri, memandang pihak lain secara setara dan bermartabat, serta keinginan baik untuk mau duduk bersama membicarakan isu-isu yang selama ini menjadi sumber perpecahan, ketegangan, konflik, dan asal-muasal kekerasan di Papua.
Kita berharap dialog ini mampu mengurai segala permasalahan yang membelit Papua serta mencari solusinya. Dialog harus mampu meneguhkan Papua dalam bingkai NKRI. Jangan sampai dialog ini dijadikan sarana referendum, apalagi memisahkan diri dari NKRI.

1 komentar:

  1. Anda mencintai Papua? apa kah dengan nurani mu atau karena alam papua? jika anda mencintai papua karena kekayaan alamnya dan manusianya kau hina maka kau biadap bukan lagi beradap, kau tidak memiliki peri kemanusiaan dan anda tidak bercermin dari isi undang-undangmu bahwa setiap bangsa memiliki hak untuk menentukan kemerdekaaan namun bangsa papua adalah sebuah bangsa yang notabene adalah berbeda dengan bangsa melayu kuno, maka PAPUA siap MERDEKA!!

    BalasHapus