Rabu, 29 Februari 2012

PILKADA ACEH JANGAN MEMPERTAJAM PERBEDAAN



Persatuan, perubahan dan kemenangan akan terasa bila toleransi dalam masyarakat Aceh terbangun, diharapkan para kandidat dan pendukungnya dapat mewujudkan rasa persaudaraan yang tinggi, dan menyamakan pendapat untuk memelihara agar perdamaian di Aceh tidak  ternodai.  Jangan sampai hanya  perselisihan antar elite politik di Aceh terkait dengan pilkada sehingga dapat mengorbankan harapan masyarakat Aceh secara keseluruhan.

Siapaun juga tahu bawa konflik bersenjata puluhan tahun yang menewaskan ribuan jiwa di Aceh itu berakhir setelah pemerintah dan pihak Gerakan Aceh Merdeka (GAM) sepakat menandatangani nota kesepahaman (MoU) damai di Helsinki, Finlandia, pada 15 Agustus 2005 lalu.

Kekhawatiran terusiknya perdamaian Aceh itu mengusik masyarakat Aceh menyusul memanasnya suhu politik menjelang pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Gubernur/Wakil Gubernur serta 17 pasangan Bupati/Wakil Bupati dan Wali Kota/Wakil Wali Kota di provinsi tersebut. Sebab suf di antara elemen masyarakat dan partai politik di Aceh masih ada perbedaan pandangan terkait Pilkada Aceh, sehingga menimbulkan kekhawatiran yang dapat mengusik perdamaian di provinsi itu.

Karenanya, sebagai provinsi yang mayoritas penduduknya Muslim itu maka masyarakat mengharapkan pilkada  bukan dijadikan untuk mempertajam perbedaan tapi dijadikan sebagai momentum memperkuat perdamaian Aceh. Momentum pilkada ini harus dijadikan sebagai tahun persatuan, kemenangan, dan perubahan untuk rakyat dalam membangun Aceh secara bermartabat.  

Kita berharap agar persatuan dan kesatuan ditempatkan pada tempat terhormat sehingga demokrasi menjadi rujukan dalam segala aktivitas.  Kemenangan akan terasa bila toleransi dalam masyarakat Aceh terbangun, diharapkan para kandidat dan pendukungnya dapat mewujudkan rasa persaudaraan, dan menyamakan pendapat untuk memelihara agar perdamaian di Aceh tetap terpelihara sepanjang waktu.   

KOMUNIS GAYA BARU PATUT DIWASPADAI




            Memori bulan September merupakan bulan yang penuh makna  bagi   bangsa dan negara Indonesia. Dimana pada bulan tersebut  tepatnya setiap tanggal 30 September diperingati sebagai peristiwa G.30 S/PKI  yang merupakan peristiwa  memilukan. Betapa tidak pada moment  tersebut banyak rakyat yang tidak berdosa menjadi tumbal kebiadaban komunis.  Lalu muncul pertanyaan sederhana yang menggelitik kita apakah komunis di Indonesia masih  ada?

            Secara formal legal komunis memang sudah tidak ada dan bubar. Namun secara fakta ideologi komunis tidak akan pernah mati. Mereka bisa menjelma dalam bentuk baru. Mudahnya menggelar demonstrasi di era reformasi in membuat komunisme mudah pula untuk meyusup kemana-mana. Slogan-slogan demonstrasi pun berbau komunisme seperti: buruh bersatu tak bisa dilawan, rakyat bersatu tak bisa dikalahkan, dan yang semacamnya. Bahkan jangan heran kalau komunisme pun ditengarai sudah menyusup dengn bentuk baru. Beberapa pihak mulai menyebut fenomena ini sebagai   Komunis Gaya Baru=KGB.
Akhir-akhir ini telah muncul secara sistematis melakukan kegiatan dengan berbagai cara untuk merongrong   ideologi Pancasila. Elemen komunisme  ini ditengarai mencoba masuk ke berbagai ranah kehidupan masyarakat. Termasuk dengan melakukan upaya pembelokan sejarah tentang G.30 S/PKI. Saat ini pihak pendukung komunis  sudah melakukan manipulasi data dan fakta yang dituangkan dalam bentuk penerbitan  buku  untuk mengklarifikasi persoalan pemberontakan PKI.  Seolah-olah komunisme cuci tangan dari perbuatan kotor dari tindakan   pemberontakan, ataupun seolah komunisme adalah ideologi yang suci nan bersih.

  Para tokoh dan simpatisan PKI rame-rame menerbitkan buku sesuai kisah masing-masing. Misalnya (Hersri Setiawan, mantan aktivis Lekra (lembaga seni budayanya PKI) menulis Memoar Pulau Buru; Hasan Raid menulis Pergulatan Muslim-Komunis; Kresno Saroso menulis Dari Salemba ke Pulau Buru; Haji Ahmadi Moestahal menulis Dari Gontor ke Pulau Buru, dan Abdul Latief menulis Pledoi Latief; Soeharto Terlibat G30S.  Yang menghebohkan lagi adalah ketika beberapa tahun yang lalu salah seorang anggota DPR RI terhormat  pada awal Oktober 2002 telah  meluncurkan bukunya dengan judul “Aku Bangga Jadi Anak PKI”.  Belum berhenti disitu, lalu disusul  pada pertengahan 2006 lalu, dia meluncurkan buku kedua dengan judul Anak PKI Menjadi Anggota Parlemen.

      Dengan demikian bila  Organisasi Tanpa Bentuk itu makin gencar dan membahayakan kelangsungan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) jika tidak diantisipasi dengan cermat dan cepat.  Maka  lambat laun   komunis akan kembali menjadi ancaman kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebab komunis tidak pernah cocok hidup di Indonesia  karena komunis adalah anti Tuhan.  Harus diakui bahwa   tidak mudah mendeteksi keberadaan Organisasi Tanpa Bentuk yang lambat laun bermetaformosis (berubah bentuk)  menjadi komunis gaya baru karena mereka berbaur di tengah masyarakat.

Oleh karena itu, kita berharap agar kita  mau peduli terhadap lingkungan sekitarnya dimanapun berada dan bertugas. Apabila ada kelompok atau golongan tertentu yang secara sistematis ingin mengkaburkan peristiwa tersebut, sudah  menjadi kewajiban kita  peduli  untuk mengembalikan kepada peristiwa yang sebenarnya terjadi secara faktual. Memang sangat sulit untuk mendeteksi gerakan mereka secara kasat mata, karena bukan tidak mungkin mereka berada disekeliling kita. Bahkan mereka telah membaur dalam kehidupan sehari-hari dilingkungan sekitar kita atau bahkan sudah membaur ditengah   keluarga kita sekalipun. 

MENOHOK KONGRES PAPUA


Add caption

Pasca penangkapan sejumlah deklarator Negara Federasi Papua Barat beberapa waktu lalu, berbagai tanggapan muncul baik yang pro mapun yang kontra. Pasca  penangkapan yang dilakukan oleh Kepolisian yang di bac up TNI, maupun penyelenggaraan konggresnya masyarakat dan bangsa Indonesia    menunggu hasilnya  agar      pelaku kongres III Papua maupun aktor intelektual dibelakang layar  agar diberikan sangsi yang tegas tanpa tebang pilih.
Tindakan  pelaku kongres dianggap sebagai penghianatan terhadap NKRI, dimana pelaku Kongres secara  jelas    telah  mengangkat Forkorus Yeboisembut  sebagai Presiden  dan   Edison Waromi  sebagi      Perdana Menteri. Pengangkatan presiden dan perdana mentri adalah merupakan tindakan yang melanggar hukum. Dimana Papua hingga saat ini  masih sah sebagai bagian NKRI sesuai dengan hasil Penentuan Pendapat Rakyat Papua (Pepera) pada tahun 1969 dan sudah ditetapkan dalam resolusi PBB dengan nomor 2504. 
Pelaksanaan kongres III Papua  beberapa waktu yang lalu adalah merupakan tindakan yang patut dikutuk. Dimana pengangkatan presiden dan pardana mentri baru adalah merupakan tindakan makar,  akal busuk, perbuatan dengan maksud hendak   menjatuhkan pemerintahan yang sah. Perbuatan makar yang dilakukan oleh kelompok separatis Organisasi Papua Merdeka (OPM) dengan selalu    mengatasnamakan rakyat Papua  dapat kategorikan  sebagai kelompok konspirasi politik untuk mufakat jahat dalam  mencari kekuasaan secara instan.
Tindakan tersebut secara jelas merupakan bentuk penghianatan dan pelanggaran terhadap kedaulatan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dianggap sudah final. Jika ada pihak yang ingin mendirikan negara di dalam wilayah NKRI merupakan tindakan makar, dan perbuatan ini harus segera dihentikan.   

Pelakunya harus diproses sesui dengan hukum berlaku, sebab jika tidak dilakukan penindakan secara tegas maka  bukan tidak mungkin di kemudian hari masih akan terjadi  hal yang serupa bahkan akan lebih besar lagi. Makanya dengan langkah tegas yang dilakukan oleh aparat TNI dan Polri untuk membubarkan secara paksa dan memproses pelaku yang terlibat kegiatan Kongres III Papua patut didukung demi untuk menjunjung tinggi hukum dan wibawa pemerintah yang sah.  

Oleh karenanya   kepada  semua pihak agar penanganan separatis dilakukan dengan pendekatan kesejahteraan dan pendekatan sosial yang cenderung menyentuh masalah nurani kemanusian sehingga  benih-benih separatisme dapat ditangkal secara dini.  Dan,  kelompok separatis dimanapun berada harus dijadikan  musuh bersama untuk tidak memberikan ruang gerak sedikitpun para penghianat bangsa.

Selasa, 28 Februari 2012

JANGAN JADI BAGIAN BEBAN BANGSA


Saat ini, masyarakat kita dalam  menyikapi   setiap persoalan memiliki cara pandang yang berbeda, namun lebih  banyak cenderung bergeser pada penyelesaian persoalan  yang kontra produktif,  sehingga hasilnyapun tidak lebih dari sekedar kepuasan hati dan pelampiasan amarah, dengan mengorbankan kepentingan yang  lebih besar lagi, yang pada akhirnya hanya menjadi beban bangsa dan negara.
Lebih parahnya lagi, masyarakat kita sangat mudah dipengaruhi oleh hal hal yang  bersifat abstrak , semu dan  baik dipermukaan saja, sehingga tatkala  ada organisasi atau kelompok   yang berkedok  demi  rakyat dan atas nama agama untuk menyelesaikan persoalan bangsa, maka masyarakat  sangat antusias untuk  berpartisipasi berapapun harga yang harus dikeluarkan , hanya demi kepuasan abstrak namun memiliki efek serius yaitu menjadi beban negara.
            Bila pola-pola pemikiran seperti ini terus berkembang di masyarakat, saya khawatir, bahwa  bangsa ini menjadi bangsa yang  sulit diajak maju, cenderung mundur dan yang lebih menyedihkan lagi , kita menjadi bangsa yang lebih suka  melihat kehancuran dan kerusakan bangsa dari pada menjadi bagian dari solusi bangsa.
            Namun demikian menurut hemat kami  bahwa  masih ada harapan, dimana institusi TNI selalu mengedepankan visi dan misinya, termasuk soliditas, sebab bila tentara tidak solid, hal itu akan mengancam tegaknya bangsa. Apalagi kita berharap agar tentara konsisten sebagai   bagian terpenting bagi tegak dan runtuhnya negara. TNI harus bisa jadi pemersatu bagi seluruh komponen bangsa, untuk menjadi bangsa yang utuh, besar dan sejajar dengan negara lain.
Bagaimanapun kemanunggalan TNI dengan rakyat tetap menjadi kunci utama bersatunya seluruh komponen bangsa ini, hingga Indonesia menjadi bangsa yang besar, kuat dan sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Memang pada masa lalu   ada segelintir  prajurit TNI yang ingin menggulingkan pemerintahan karena memiliki kelompok bahkan ideologi  yang berbeda. Kini TNI  bukan milik kelompok tapi milik negara sehingga tak boleh mengkhianati Negara Kesatuan Republik Indonesia.
TNI kita kenal sudah menjadi nafas dan urat nadi  bangsa yang berdiri di atas semua kelompok dan komponen bangsa yang pluralistik, berlandaskan wawasan kebangsaan, Pancasila dan UUD 1945. Dengan berbekal, militansi dan pemahaman wawasan kebangsaan yang luas maka  seluruh komponen yang ada harus bisa menjadi bagian solusi bangsa dan negara Indonesia bukan beban bagi negara. Bangsa ini akan jaya  jika sikap egois sektoral  kelompok ditempatkan pada kepentingan yang lebih besar yaitu NKRI.
Sebagai masyarakat  awam, pemahaman seperti diatas sungguh memiliki makna yang sangat dalam, dikaitkan dengan persoalan bangsa saat ini, dimana urusan pemerintah semakin kompleks sehingga seluruh persoalan yang  terjadi di masyarakat  seolah menjadi beban negara.
Untuk itu bila bangsa ini ingin maju dan sejahtera, marilah kita sama-sama membangun negeri ini secara benar. Benahi mental dan spiritual kita, dengan menumbuhkan budaya malu, berpikir positif serta menjauhkan diri dari mental barbar seperti korupsi, menghujat, memfitnah dan ingin  benar dan mau menang sendiri.

Senin, 27 Februari 2012

PERTAHANAN NEGARA YANG IDEAL



              Negara yang kuat adalah negara yang memiliki  pertahanan yang terencana dan  bukan hanya mengandalkan  bertahan pada  saat di serang musuh.  Tapi  Negara yang kuat adalah Negara yang jauh  hari sebelumnya memiliki pertahanan Negara yang siap menghadapi berbagai ancaman baik yang datang dari luar maupun serangan yang datang dari dalam negeri. Maka tidak salah jika TNI sebagai  penegak  kedaulatan bangsa   harus berbenah diri dan siap menghadapi berbagai   perhitungan resiko-resiko yang akan di hadapi apabila negara diserang oleh pihak musuh. 
             Negara Indonesia dikenal sebagai   negara kepulauan dengan 80 % wilayah laut dan hanya 20 % saja wilayah darat. Dengan demikian  Indonesia memiliki ancaman terhadap kedaulatan sangat besar karena sebagian besar wilayah Indonesia berada di laut. Jika dicermati secara lebih dalam lagi maka persentase ancaman ini menjadi semakin tinggi karena posisi geografi Indonesia berada dalam jalur lalu lintas perdagangan dunia.
Maka  kosekuensi dari memiliki lautan yang luas memungkinkan bahwa setiap hari ratusan bahkan   ribuan kapal akan melintasi   perairan Indonesia setiap harinya. Mengingat betapa penting dan strategisnya wilayah perairan laut Indonesia  dimungkinkan kapal-kapal tersebut dapat saja   melakukan kegiatan intelijen atau bahkan ”sekedar” mencuri ikan tanpa dapat terdeteksi oleh kapal-kapal patroli TNI  Angkatan Laut kita.  
Dihadapkan pada fakta bahwa wilayah laut adalah wilayah terbuka, maka dengan leluasa kekayaan laut Indonesia dimanfaatkan bangsa lain tanpa ada kemampuan untuk melindunginya. Luas laut yang hampir empat kali luas dari  daratan. Hal ini menunjukkan   bahwa kapabilitas pertahanan dan pengamanan laut Indonesia harus ditopang kekuatan pertahanan dengan alutsista yang memadai  baik  dari segi kualitas maupun kuantitasnya.
Ironis memang  dengan luas laut yang membentang dari Sabang hingga Merauke, seharusnya Indonesia memiliki pertahanan yang modern yang dapat menjangkau berbagai tindakan penyusupakan dan tindakan yang mencuri kekayaan alam Indonesia.
Oleh karenanya kita berharap agar pertahanan yang kita miliki hendaknya segera diperhatikan. Kita dapat bermimpi kembali ketika pada tahun 50 an kita pernah menjadi pertahanan terkuat di Asia. Maka tidak ada salahnya jika moment tersebut dapat diualangi. Kalau tidak bisa  minimal dapat mengimbangi kekuatan persenjataan Malaysia dan singapura.

Rabu, 22 Februari 2012

APARAT SANGAT DIBUTUHKAN DI PAPUA



        Meningkatnya eskalasi keamanan di Papua akhir akhir ini, akibat permasalahan front bersenjata dari kelompok sipil bersenjata di beberapa daerah di Papua seperti Puncak Jaya dan Timika terus berlanjut. Ditambah lagi pada , Senin, 20 Februari 2012 lalu  ribuan warga Papua yang tergabung dalam Komite Nasional Papua Barat menduduki gedung Majelis Rakyat Papua di Kotaraja, Jayapura. Pengunjuk rasa menuntut referendum dan meminta pencabutan Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat.

         Dihadapkan dengan kondisi tersebut keberadaan aparat TNI dan Polri  sangat dibutuhkan demi untuk menjaga kedaulatan dan keutuhan NKRI. Diyakini tindakan tersebut sebagai upaya provokasi  hitam talah dilakukan oleh  separatis  OPM beserta   antek-anteknya untuk mencapai tujuan yang hendak memisahkan diri NKRI.

          Dengan demikian  keberadaan aparat TNI  dan Polri di Papua sudah  tepat karena OPM bersenjata merupakan ancaman keutuhan NKRI. TNI selaku pertahanan Negara berkewajiban menumpas para   anasir-anasir kelompok bersenjata yang kerap meresahkan masyarakat.  Dengan munculnya ancaman tersebut maka   tidak masuk akal adanya pihak-pihak tertentu yang menghendaki agar TNI keluar dari Papua.  Tuntutan seperti ini  jelas dapat ditebak arahnya bahwa kelompok tersebut adalah kelompok anti NKRI yang hendak mendirikan Negara dalam Negara.

         Kami selaku  putra asli Papua berharap agar  wacana agar TNI keluar  di Papua sangat  tidak rasioanal, dimana hingga saat ini   Papua masih sangat membutuhkan tenaga aparat, termasuk aparat TNI. Sekarang ini masih banyak penembakan dari orang tidak dikenal, seringnya demo minta referendum.  Jika ini tidak dikawal dan dibiarkan oleh aparat maka  bukan tidak mungkin Papua akan lepas dari NKRI.

       Kalau kita analisa permainan kelompok tertentu di Papua sudah  sedemikian canggih dimana kelompok–kelompok yang bermain sungguh sangat tersistimatis. Kelompok LSM yang kerap tampil sebagai  pemadam kebakaran sengaja mencari keselahan dan kelemahan TNI dengan berkedok sebagai pembelah  HAM. Contoh paling aktual ketika ada aparat tertembak oleh separatis  sipil bersenjata   kita tidak pernah mendengar adanya kutukan terhadap  kelompok sipil bersenjata   oleh  penggiat HAM.

  Maka muncul pertanyaan mengelitik kita,  kepada siapa sebenarnya himbaun ditujuakan  agar  segera menghentikan kekerasan di Papua? Jawabannya secara pasti tergantung pada kelompok mana yang dibela menurut kepentingannya.  Namun yang pasti  jika separatis OPM mau membubarkan diri secara sukarela    maka secara pasti  garansinya adalah seribu persen  tindak kekerasan akan berakhir sendirinya di Papua. Makanya selama masih ada OPM bercokol di Papua, TNI secara pasti juga akan tetap eksis di Papua sebagai penangkal dan penindak setiap jengkal tanah yang hendak mencabik-cabik NKRI tercinta.



Senin, 20 Februari 2012

SITUASI ACEH HARUS KONDUSIF JELANG PILKADA



Situasi kondusif menjelang pilkada Aceh  merupakan moment yang sangat krusial dan sangat penting. Pasalnya, kelancaran penyelenggaraan dan kualitas demokrasi dalam pilkada sangat dipengaruhi oleh keamanan.  Yang lebih penting lagi adalah menjaga keamanan untuk merawat perdamaian di Aceh yang sudah dirasakan rakyat pasca perdamaian Helsinki.Perdamaian inilah yang menjadi prasyarat mutlak bagi masa depan Aceh yang makin menjanjikan. Jangan sampai modal perdamaian terkoyak dan Aceh kembali bergolak.
             Pada masa damai ini, para pemimpin di Aceh harus lebih berkonsentrasi membangun dan memperbaiki kondisi Aceh yang belum baik. Pembangunan infrastruktur, pendidikan, dan kesejahteraan adalah tantangan yang harus dipenuhi para calon pemimpin yang kini akan bertarung dalam pemilihan umum kepala daerah.
            Masyarakat Aceh memiliki peluang untuk banyak berbuat bagi masa depan Aceh yang lebih aman, damai, lebih demokratis dan sejahtera. Proses pergantian pimpinan daerah yang dipilih secara langsung menjadi momentum pembelajaran politik kepada masyarakat sebagai bagian dari mekarnya sebuah proses demokratisasi. Dengan demikian  perlu dijalin kerja sama dari semua pihak, baik eksekutif, legislatif, maupun yudikatif menjadi modal utama bagi terbangunnya optimisme Aceh yang lebih baik.
Perjanjian perdamaian yang telah berjalan harus dijaga, karena hal ini menjadi modal utama untuk masa depan Aceh yang lebih menjanjikan. Jangan sampai modal perdamaian ini terkoyak dan Aceh kembali bergolak. Perdamaian ini harus tetap dijaga dan dirawat sampai kapan pun, bukan hanya pada saat menjelang Pilkada pada 9 April 2012 nanti.
Masyarakat Aceh memiliki peluang untuk banyak berbuat bagi masa depan Aceh yang lebih aman, damai, lebih demokratis dan sejahtera. Proses pergantian pimpinan daerah yang dipilih secara langsung menjadi momentum pembelajaran politik kepada masyarakat sebagai bagian dari mekarnya sebuah proses demokratisasi.
 Pada sisi lain yang tak kalalah  pentingnya adalah   dibutuhkannya  kerjasama diantara semua pihak dalam rangka membangun dan memperbaiki kondisi Aceh agar lebih baik. Kepada mereka-mereka yang akan bertarung memperebutkan kursi kepala daerah Aceh, kita berharap bahwa pilkada ini merupakan salah satu cara untuk membangun tanah Aceh.
Oleh  karenanya kita berharap keamanan merupakan suatu hal mutlak harus dijaga dan dikawal dengan baik untuk menciptakan perdamaian yang abadi. Situasi keamanan yang tidak kondusif akan mempengaruhi berbagai sendi kehidupan masyarakat. Demikian juga halnya dengan pelaksanaan pesta demokrasi di Aceh harus didukung oleh situasi keamanan yang baik tanpa ada gangguan apa pun.

Minggu, 19 Februari 2012

Obat-obat yang Bisa Bikin Orang Mengalami Orgasme Spontan

Orgasme biasanya terjadi ketika seseorang mendapatkan rangsangan seksual baik dari orang lain atau diri sendiri. Tapi obat tertentu diketahui memiliki efek samping bisa membuat orang orgasme secara spontan.
Para ahli umumnya mendefinisikan orgasme spontan dengan pengalaman orgasme tanpa adanya rangsangan dari indera seksual dan tidak ada penjelasan fisik lain mengapa orang tersebut bisa mengalami gairah seksual atau mencapai klimaks.

Obat antidepresan yang diketahui memiliki efek samping orgasme spontan terutama golongan Serotonin Selective Reuptake Inhibitor (SSRI), termasuk obat berikut, seperti dikutip dari sexuality.about.com, yaitu:

  1. Fluxotine
  2. Paroxetine
  3. Citalopram
  4. Bupropion
Beberapa kasus yang terdokumentasi ada seorang pasien laki-laki yang diketahui mengalami orgasme yang kedua tanpa adanya rangsangan yang terjadi, meski pada orgasme pertama ia mengalaminya secara normal.

Dalam kasus berbeda ada seorang perempuan yang melaporkan mengalami orgasme selama beberapa menit yang terjadi 4-5 kali dalam sehari. Sedangkan perempuan lain melaporkan orgasme spontan yang terjadi 10-15 kali per hari masing-masing kurang dari 1 menit.

BEBERAPA PULAU TERLUAR MENJADI INCARAN PIHAK ASING


Add caption

 Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang mempunyai 17.508 pulau. Indonesia terbentang antara 6 derajat garis lintang utara sampai 11 derajat garis lintang selatan, dan dari 97 derajat sampai 141 derajat garis bujur timur serta terletak antara dua benua yaitu benua Asia dan Australia/Oceania. Posisi strategis ini mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap kebudayaan, sosial, politik, dan ekonomi. Wilayah Indonesia terbentang sepanjang 3.977 mil antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Apabila perairan antara pulau-pulau itu digabungkan, maka luas Indonesia menjadi1.9 juta mil persegi,
            Dengan luasnya tersebut mengakibatkan banyak pulau menjadi tidak terurus sehingga memungkinkan piak asing untuk mengincarnya. Menurut informasinya wilayah perbatasan dan pulau-pulau terluar hingga saat ini masih menjadi incaran pihak asing/Negara tetangga untuk bisa memilikinya, karena wilayah tersebut disamping memiliki posisi strategis sebagai garis batas penentuan wilayah negara, juga kaya akan potensi sumber daya alam yang melimpah. Sehingga bila pemerintah lamban dalam mengelola dan menangani sejumlah permasalahan yang terjadi di wilayah perbatasan, maka bukan mustahil wilayah perbatasan atau pulau-pulau kecil terluar akan diambil/diklaim oleh pihak asing.
Sederet permasalahan di wilayah perbatasan maupun pulau-pulau terluar yang memerlukan penanganan serius dari pemerintah. Masalah pemberian nama pulau misalnya, dari hasil penelitian dan perhitungan terhadap 17.499 pulau-pulau di Indonesia, hanya 5.689 yang sudah diberi nama, sedangkan sebanyak 11.801 pulau belum ada namanya. Di wilayah NTT misalnya, sedikitnya 134 dari 566 pulau yang tersebar di 21 kabupaten/kota di NTT hingga kini belum diberi nama. Bila ribuan pulau yang belum bernama tersebut tidak segera diberi nama, dan dilaporkan ke PBB, maka pulau-pulau tersebut terancam tidak diakui oleh PBB.
Demikian juga masalah sengketa perbatasan antara Indonesia dengan beberapa Negara tetangga yang belum tuntas, seperti masalah batas pulau Rondo yang berbatasan dengan India, Pulau Berhala dan Sebatik dengan Malaysia, Pulau Sekatung dengan Vietnam, Pulau Miangas dengan Philipina dan Pulau Batek dengan Timor Leste. Belum lagi masih maraknya berbagai bentuk kejahatan dan pelanggaran hukum di wilayah perbatasan serta kondisi tingkat kesejahteraan masyarakat perbatasan yang masih sangat memprihatinkan, akibat minimnya infrastruktur yang dimiliki.
Berbagai langkah yang telah dilakukan oleh pemerintah baik pusat maupun daerah hingga saat ini masih kurang signifikan, terkesan lamban dan kurang terintegrasi, bila dihadapkan dengan kondisi permasalahan di wilayah perbatasan yang demikian kompleks dan memprihatinkan.
 Kita berharap agar penanganan masalah perbatasan dan pulau-pulau terluar tidak hanya sebatas  rencana diatas tumpukan kertas atau hanya  pada tataran kebijakan di atas kertas wacana, tetapi yang utama adalah adanya action atau tindakan riil di lapangan. Kehadiran negara di wilayah perbatasan dan pulau-pulau terluar baik secara berupa fisik maupun non fisik seperti pembangunan infrastruktur seperti  listrik, pendidikan, kesehatan maupun informasi perlu lebih dipacu lebih  cepat lagi sehingga masyarakat diperbatasan dapat menikmati hasil pembangunan.

Rabu, 15 Februari 2012

TNI: KINI DAN NANTI


Dalam sejarah perjalanan bangsa   Tentara Nasional Indonesia (TNI) seiring dengan usia perjuangan bangsa Indonesia. TNI terlahir sebagai prajurit rakyat dari kancah pergolakan pada saat  perang kemerdekaan. Tentara tumbuh dan berkembang dalam  untuk     meningkatkabn   dan membela bangsa, serta menjadi prajurit yang profesional. Kemampuan TNI harus didorong secara terus menerus dalam meningkatkan kemampuannya, baik selaku perorangan prajurit maupun organik satuan.

Tuntutan untuk menjadi abdi Negara  yang  profesional tetapi juga harus modern dan dapat memanfaatkan kemajuan teknologi dalam menjalankan tugas dan funngsinya.  Kesiapan insititusi Tentara sebagai  kekuatan pertahanan di era global ini hendaknya diimbangi dengan peningkatan alutsista yang modern secara   konsisten, antisipasif, dan prospektif. Dengan demikian maka akan tercipta postur  TNI mampu mengaplikasikan fungsi dan tugas pokoknya sebagai penangkal, pencegah, dan penghancur segala bentuk ancaman yang membahayakan integritas bangsa dan kedaulatan Negara.
TNI tidak boleh lengah dari tugas dan kewajiban utamanya yakni mempertahankan dan membela wilayah kesatuan Republik Indonesia dari berbagai ancaman, baik dari dalam maupun dari luar negeri. Ancaman-ancaman tersebut antara lain berupa aksi terorisme, gerakan separatisme, konflik sara, friksi antarbangsa, ancaman kedaulatan, dll. Menjaga dan memelihara keutuhan bangsa Indonesia dari berbagai gangguan maupun upaya-upaya pihak luar yang mencoba mencampuri urusan dalam negeri Indonesia.
 Tugas, tanggung jawab, dan tantangan yang dihadapi TNI dari masa ke masa terus meningkat dan semakin kompleks. Kondisi lingkungan strategis yang berkembang dengan cepat, wilayah yang luas dengan 13.000 pulau, jumlah penduduk yang besar, multikultur dan heterogen, dinamika krusial sparatis yang sporadis, banyaknya objek vital yang harus diamankan, serta kemajuan teknologi persenjataan, mengharuskan TNI untuk menyesuaikan diri dan meningkatkan standar kemampuan dan kekuatannya.
Kemampuan perang dan pertahanan Negara perlu didukung oleh infrastruktur yang memadai. Dalam menjalankan tugas dan menghadapi tantangan di era global, TNI harus dilengkapi dengan alutsista (alat utama sistem persenjataan) yang kuat dan tangguh dengan mengikuti perkembangan teknologi mutakhir. Selain itu TNI perlu senantiasa memupuk potensi dan modal awalnya yakni semangat juang dan dukungan rakyat sepenuhnya. Apabila terjadi konflik dengan Negara lain yang bisa diselesaikan dengan cara diplomasi, maka perang adalah pilihan terakhir. Namun jika persoalannya mengenai kedaulatan negara, maka kedaulatan adalah harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.
Oleh karenanya kita berharap agar  TNI memiliki  kekuatan   alutsista yang modern sesui dengan tuntutan perkembangan  zaman . Selain itu, perlu dukungan kebijakan pemerintah dalam hal pembinaan dan anggaran yang dapat meningkatkan profesionalisme TNI dalam menghadapi tantangan tugas di masa depan yang sangat berat. Menghadapi persoalan bangsa yang semakin pelik terhadap berbagai ancaman yang timbul di dalam negeri dan yang datang dari luar negeri seperti saat ini, maka  dibutuhkan seorang pemimpin yang tegas dan berani mengambil keputusan, visioner, bersikap kritis, serta mampu keluar bertindak cepat dalam mengatasi  berbagai persoalan yang ada.  Semoga !

Selasa, 14 Februari 2012

MENJAMIN EKSISTENSI PERTAHANAN YANG KUAT



Add caption
  Pertahanan suatu negara merupakan faktor utama dalam menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara. Suatu negara tidak akan bisa menjaga eksistensinya dari ancaman baik dari dalam maupun dari luar negeri apabila belum mampu untuk mempertahankan diri dari ancaman tersebut. Pembangunan harus dilaksanakan secara  komprehensif dan bersifat strategis, termasuk dengan mengikutkan di dalamnya pengembangan strategi pertahanan negara yang tangguh, demi suatu bangsa yang bermartabat.
Untuk itulah reorientasi penataan strategi pertahanan nasional dan upaya penangkalan dalam konsep geopolitik dan geostrategi berkenaan dengan dislokasi geografi Indonesia yang luas dan masih mempunyai banyak titik rawan (vulnerable points) perlu mendapat perhatian serius bagi bangsa kita kedepan.
Sebab tidaklah mungkin menjaga luasnya wilayah negara dengan perangkat yang minimalis dan tanpa dukungan (politik dan ekonomi) dari seluruh elemen bangsa demi terwujudnya sistem pertahanan yang kuat dan disegani. Sehingga harapan wibawa bangsa dapat kembali terangkat tanpa harus berteriak-teriak “Ganyang Malaysia!!!” dapat diwujudkan melalui keberanian para pemimpin bangsa mengambil kebijakan, serta sikap dan mentalitas profesional seluruh elemen bangsa, dalam penciptaan kekuatan militer yang disegani menjadi pilar-pilar yang saling menguatkan.
Setiap negara berkeinginan untuk selalu dapat meningkatkan kemampuan pertahanan wilayahnya. Dengan kemampuan pertahanan yang kuat maka negara tersebut mempunyai kemampuan diri yang dapat diandalkan untuk menghadapi berbagai macam bentuk ancaman, baik yang datang dari dalam maupun dari luar negeri. Isu pertahanan dan keamanan pada dekade terakhir ini semakin kompleks dengan terusiknya wilayah Indonesia di perbatasan, diantaranya batas laut dengan Singapura, batas daratan di Kalimantan Barat dan Timur serta klaim blok Ambalat oleh Malaysia. Bahkan Timor Leste pun kini mulai mengusik perbatasan dengan klaim beberapa wilayahnya di NTT.
 Persoalan-pengelolaan perbatasan negara sangat kompleks dan urgen terhadap integritas negara kesatuan RI, sehingga perlu perhatian penuh pemerintah terhadap penanganan hal-hal yang terkait dengan masalah perbatasan, baik antar negara maupun antar daerah. Patut diingat bahwa penanganan perbatasan negara, pada hakekatnya merupakan bagian dari upaya perwujudan ruang wilayah Nusantara sebagai satu kesatuan geografi, politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan.
Harus kita sadari bahwa masalah pertahanan negara merupakan faktor yang sangat penting dalam menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara. Tanpa mampu mempertahankan diri dari ancaman baik dari dalam maupun dari luar negeri, suatu negara tidak akan dapat mempertahankan keberadaannya.
          Oleh karena itu erat kaitannya pertahanan negara dengan harkat dan martabat suatu bangsa, dengan adanya pertahanan negara yang memadai (Postur Pertahanan Yang Kuat)  akan membuat bangsa lain tidak memandang sebelah mata terhadap bangsa kita. Sebagai Negara kepulauan yang memiliki wilayah yang lebih luas

Senin, 13 Februari 2012

PREDIKSI ANCAMAN DI PERBATASAN


Banyak kalangan menilai bahwa dewasa ini ancaman nirmiliter cenderung lebih menonjol dibandingkan ancaman militer. Bahkan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro dalam berbagi kesempatan pernah  memprediksi bahwa ancaman militer terhadap pertahanan negara bakal mengecil di masa depan, namun ancaman nirmiliter akan mendominasi.
Demikian juga ancaman yang paling membahayakan pertahanan nasional dan kedaulatan NKRI di daerah perbatasan bukan ancaman militer dari kekuatan militer asing, melainkan ancaman nirmiliter. Bila  kekuatan militer bisa dideteksi dan dihadapi dengan kekuatan militer, yakni TNI yang ditempatkan di perbatasan, tetapi ancaman nirmiliter yang berdimensi ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, teknologi, informasi serta keselamatan umum akan sulit dideteksi dan dihadapi secara militer.
Salah satu bentuk ancaman nirmiliter adalah penetrasi siaran dan informasi dari negara tetangga yang sulit dibendung dan kemudian diterima masyarakat perbatasan. Bila hal ini dibiarkan, tanpa upaya menanganinya maka pengaruh informasi tersebut dikhawatirkan dapat mengikis rasa nasionalisme masyarakat perbatasan. Karena, masyarakat di daerah perbatasan umumnya masih terisolasi dan tidak banyak menerima siaran nasional, sebaliknya lebih banyak menerima informasi dari negara-negara tetangga. Oleh karena itu, diperlukan pemberian informasi yang mendidik, positif dan nasionalis secara terus menerus dari pemerintah.
Terkait hal ini, maka Negara berkewajiban untuk memberikan informasi kepada seluruh masyarakat, termasuk masyarakat perbatasan. Banyak orang berpendapat bahwa masalah di perbatasan adalah penting. Sayangnya, masalah akses informasi di perbatasan dianggap kurang urgen dan mendesak. Padahal, informasi memiliki nilai sangat strategis dalam pertahanan dan keamanan sebuah Negara, karena menyangkut kedaulatan NKRI. Sehingga pembangunan infrastruktur komunikasi dan penyediaan informasi nasional bagi masyarakat di perbatasan sangat penting.
Persoalan kebutuhan informasi bagi masyarakat di perbatasan harus segera diwujudkan, karena merupakan salah bentuk pertahanan nirmiliter yang akan menetralisir ancaman nirmiliter negara lain. Kita harus membangun kekuatan nirmiliter untuk mencegah ancaman-ancaman yang masuk dalam bentuk lain, melalui siaran-siaran informasi nasional dalam berbagai bentuk media, baik elektronik maupun cetak.
Oleh karenanya kita berarap agar tindakan yang perlu mendapatkan prioritas adalah menetapkan regulasi terkait akses informasi di perbatasan. Hal ini tentunya memerlukan keterlibatan berbagai instansi terkait seperti Kemenhan, Kemkominfo dan KPI dalam satu kesatuan kerjasama untuk menetapkan keputusan dalam rangka menjaga setiap jengkal tanah dan wilayah NKRI tercinta.  


Minggu, 12 Februari 2012

RASA KEBANGSAAN PEMUDA MULAI LUNTUR



Ketika zaman sudah berganti, pelan tapi pasti nilai-nilai kebangsaan kita secara perlahan mulai memudar pula. Lunturnya nilai-nilai kebangsaan pada generasi saat ini disebabkan banyak faktor kehidupan belakangan ini. Salah satu diantaranya yang menjadi momok dan sangat memprihatinkan bagi kita adalah masalah peredaran dan pemakaian narkoba bagi kalangan generasi muda. Dan pada sisi lain perkembangan tehnologi informasi yang begitu pesat ,transparan dan vulgar tayangan-tayangan di televisi seperti sinetron, film dan reality show yang awalnya hanya bertujuan sebagai hiburan yang mendidik, kini justru berakibat negatif  terhadap moral para generasi muda dan tentunya sudah pasti akan melunturkan nilai-nilai  rasa kebangsaan. Tawuran antar pelajar, premanisme dan  merebaknya geng motor dari kalangan muda, mengindikasikan lunturnya rasa kebangsaan dikalangan pemuda  yang dapat menjadi ancaman stabilitas keamanan.
Namun demikian  ketika sebagian generasi muda lebih suka dengan gaya konyol dan  tidak mendidik, kita masih bisa merasa bangga dengan prestasi siswa-siswa Indonesia  yang meraih prestasi  puncak/terbaik dengan telah meraih  medali emas dan perak pada olimpiade sains, lomba penelitian ilmiah, maupun lomba matematika internasional. Atau ikut merasa bangga atas keberhasilan TNI dalam membantu  dan mengevakuasi para korban bencana alam  di berbagai daerah.
Paling tidak, sampai saat ini TNI dapat kita anggap sebagai pilar negara yang masih eksis dalam nilai-nilai kebangsaan, sekaligus sebagai perekat bangsa. Selalu menjadi pelopor sekaligus motivator bagi generasi penerus bangsa karena selalu hadir membantu ketika rakyat terkena musibah bencana.
 Saya kira hal tersebut perlu kita teladani, untuk diterapkan kepada elemen lain, terlebih lagi kepada para generasi muda sebagai generasi penerus bangsa. Bangga kepada bangsa dan bangga kepada pemimpinnya  harus  tetap  kita pelihara sampai kapanpun juga.
Oleh karena itu generasi muda jangan hanya pandai berdemo dan menyalahkan pemerintah, tapi dapat mengambil hikmah dari perjuangan para pahlawan kita, sehingga para penerus bangsa ini dapat kesempatan untuk menjadi lebih maju dan berhasil. Walaupun terdapat banyak perbedaan namun dengan semangat kebangsaan, demokrasi dan rasa nasionalisme yang tinggi, semua perbedaan akan menjadi kekuatan bangsa. 

PERTAHANAN BUKAN BUKAN DOMINASI TNI




Pertahanan negara sebagai salah satu fungsi pemerintahan negara yang merupakan usaha untuk mewujudkan satu kesatuan pertahanan negara guna mencapai tujuan nasional, yaitu untuk melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut serta melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Dengan keragaman dan luasnya wilayah Negara Indonesia  secara langsung akan menimbulkan ekses kerawanan yang subur. Sementara ciri negara kepulauan dan letaknya yang berada diantara dua benua, telah menempatkan Indonesia pada posisi strategis secara geopolitik, sekaligus rawan disintegrasi. Untuk itu geopolitik Indonesia adalah persatuan bangsa dan kesatuan serta keutuhan wilayah Indonesia yang berlandaskan kesejahteraan dan keamanan seluruh rakyat.
Kepentingan pertahanan negara adalah melindungi kedaulatan negara dan menjaga keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, melindungi keselamatan dan kehormatan bangsa, dan ikut serta secara aktif dalam usaha-usaha perdamaian dunia.
Dinamika kehidupan bangsa dan interaksi bangsa Indonesia dengan bangsa-bangsa lain di dunia, harus menjamin keselamatan dan kehormatan bangsa dengan mewujudkan kesepahaman. Dengan cara pandang demikian, maka kepentingan pembangunan pertahanan tidak hanya mendorong upaya untuk kepentingan perkuatan kemampuan tentara, tetapi yang lebih esensial adalah untuk mendukung perkuatan diplomasi. Sehingga kedepan kita harus memiliki konsep kekuatan militer, menjadi kekuatan diplomasi. Itulah sebabnya mengapa Negara-negara di dunia selalu mementingkan pembangunan pertahanan lengkap dengan diplomat militernya. Sehingga bila pertahanan kuat akan memiliki nilai tawar yang tinggi, diplomasi akan lebih mudah dan Negara dapat menangani setiap persoalan   diplomasi yang krusial  dengan terhormat dan bermartabat.
Ancaman terhadap kelangsungan hidup bangsa tidak saja fisik yang dihadapi dengan kekuatan militer, tetapi juga ancaman nonfisik dari jalur diplomasi dan kepentingan antar negara. Oleh sebab itu, melindungi kedaulatan dan mempertahankan negara tidak hanya menyangkut aspek fisik, yakni penguasaan daerah, tetapi juga aspek nonfisik, yakni kepentingan keselamatan dan kehormatan bangsa.
 Didalam sistim pertahanan Negara ada dua jenis ancaman yang kemudian dirumuskan sebagai ancaman militer dan ancaman nonmiliter. Sistem pertahanan negara dalam menghadapi ancaman militer yang membutuhakan alutsista yang memadai. Tapi sayang pada beberapa saat yang lalu TNI AD merencanakan pembelian tank Leopart tapi kita dengar tidak ada kabarnya lagi. Sehingga dengan demikian memungkinkan sektor pertahanan bangsa kita akan semakin ketinggalan hanya dengan faktor politis.  Padahal perlu dipahami bersama bawa  sistem pertahanan  kita adalah yang bersifat semesta yang melibatkan seluruh warga negara, wilayah, dan sumber daya nasional lainnya, serta dipersiapkan secara dini oleh pemerintah dan diselenggarakan secara total, terpadu, terarah, dan berlanjut untuk menegakkan kedaulatan negara, keutuhan wilayah, dan keselamatan segenap bangsa dari segala ancaman.

Rabu, 08 Februari 2012

MAABBA KERINDUAN




"Yuhibbu Nahum Kahub Billah Wallazi Na Amanu Asyaddu Hubba Lillah Zuyyi Linnasi Hubbusyh Shahwati Minannisai Wal Bani Nawal Qanar Tiril Muqantharah”

Ayat dari surah An Nisa

Baca ayat ni sekali pun dah cukup untuk seharian. Ayat ni untuk merapatkan hubungan silaturrahim antara seorang individu dengan individu lain. Insya Allah nanti ada la kawan-kawan yang akan rasa rindu dengan kita. Ini juga bagus untuk hubungan suami isteri.  

PAPUA TIDAK LEPAS DARI SEJARAH NKRI



Papua tidak bisa dilepaskan dari masa lalu Indonesia. Papua adalah sebuah pulau yang terletak di sebelah utara Australia dan merupakan bagian dari wilayah timur Indonesia. Sebagian besar daratan Papua masih berupa hutan belantara. Papua merupakan pulau terbesar ke-dua di dunia setelah Greenland. Diperkirakan sekitar 47% wilayah pulau Papua merupakan bagian dari Indonesia.
Sejarah masuknya Irian Barat (Papua) ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sudah benar sehingga  tidak perlu dipertanyakan dan diutak-atik lagi.Wilayah Papua adalah bagian dari NKRI dan memiliki sejarah yang sama, bahasa yang satu yakni bahasa Indonesia.
 Fakta sejarah menunjukkan   rakyat Papua merupakan bagian NKRI   muncul sejak pelaksanaan Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928. "Sayangnya, masih ada yang beranggapan bahwa Sumpah Pemuda tidak dihadiri pemuda Papua. Ini keliru, karena justru sebaliknya, para pemuda Papua hadir dan berikrar bersama pemuda dari daerah lainnya.
Berdasarkan catatan sejarah, pada 1 Oktober 1962 pemerintah Belanda di Irian Barat menyerahkan wilayah ini kepada Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) melalui United Nations Temporary Executive Authority (UNTEA) hingga 1 Mei 1963. Setelah tanggal tersebut, bendera Belanda diturunkan dan diganti bendera Merah Putih dan bendera PBB. Selanjutnya, PBB merancang suatu kesepakatan yang dikenal dengan "New York Agreement" untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat Irian Barat melakukan jajak pendapat melalui Pepera pada 1969 yang diwakili 175 orang sebagai utusan dari delapan kabupaten pada masa itu.
Hasil Pepera menunjukkan rakyat Irian Barat setuju untuk bersatu dengan pemerintah Indonesia. Dengan demikian   NKRI  mulai dari Sabang sampai Merauke adalah harga mati. Tak ada yang boleh menggangu keutuhan wilayah Indonesia. Apabila ada pihak-pihak, ataupun kelompok-kelompok yang ingin mengoyak-koyak keutuhan NKRI itu harus ditindak tegas, tanpa mentolerirnya.

            Selaku generasi   penerus bangsa ini sebaiknya kita harus tetap konsisten terus mempertahankan keutuhan dan keamanan wilayah Indonesia. Kebrutalan OPM yang dipertontonkan selama ini berupa  penembakan terhadap aparat, rakyat sipil yang tidak berdosa adalah tindakan yang patut kita kutuk bersama.  Untuk itu, seluruh elemen bangsa haruslah mendukung tindakan tegas aparat untuk menumpas separatis OPM hingga keakar-akarnya sehingga rakyat Papua menikmati hasil pembangunan yang sedang berlangsung.  

Selasa, 07 Februari 2012

TANDA2 MANUSIA AKAN MENINGGAL SEMINGGU LAGI





Semua yang hidup pasti akan mati. Seperti apa proses kematian yang nantinya akan dialami oleh setiap makhluk hidup?

Tidak mudah memang memprediksikan secara tepat kapan seseorang akan meninggal. Kematian itu sendiri bisa disebabkan sakit, kecelakaan atau sebab lainnya.

Pada kondisi normal seperti orang sakit biasanya seseorang akan menunjukkan gejala yang mengindikasikan bahwa hidupnya akan segera berakhir beberapa minggu lagi seperti dikutip dari Mayoclinic , inilah ciri - ciri orang yang akan meninggal dalam waktu seminggu ( menurutku sie aneh ), coba lihat sendiri saja:

1. Merasa gelisah. Seseorang akan merasa tidak tenang serta sulit tidur, selain itu dia akan seringkali mengganti posisi saat tidur karena perasaan gelisah.

2. Menarik diri. Seseorang tidak ingin lagi terlibat dalam aktifitas sosial ataupun melakukan kegiatan favoritnya.

3. Sering mengantuk. Seseorang akan menghabiskan lebih banyak waktunya untuk tidur.

4. Kehilangan nafsu makan. Seseorang hanya akan makan dan minum dalam jumlah sedikit dan berbeda dari biasanya.

5. Mengalami jeda saat bernapas. Hal ini biasanya terjadi saat seseorang sedang tidur ataupun terjaga.

6. Luka yang sulit sembuh. Luka atau infeksi yang dialami mengalami kesulitan untuk disembuhkan.

7. Pembengkakan. Pada beberapa orang terjadi pembengkakan di daerah tangan, kaki atau bagian tubuh lain.

Itulah tanda - tanda kita akan meniggal dalam seminggu yang aneh , kita harus percaya bahwa tuhan lah yang menghidupkan dan mematikan kita , jika kita sudah di takdirkan untuk meninggal ya udah , tidak harus takut.

Kamis, 02 Februari 2012

Nabi Khidir Hadir Ketika Rosullullah Wafat, bag 1


  Nabi Khidir as Hadir Ketika Rosullullah wafat. Ibnu Mash’ud berkata: “Ketika Rosulullah saw telah mendekati ajalnya, beliau mengumpulkan kami sekalian dikediaman ibu kita Siti Aisyah, kemudian beliau memperhatikan kami sekalian sehingga berderrailah air matanya dan bersabda: “Selamat datang bagi kamu sekalian dan mudah-mudahan kamu sekalian dibelas kasihani oleh Allah, saya berwasiat agar kamu sekalian bertaqwa kepada Allah serta mentaatiNya. Sungguh telah dekat hari perpisahan kita dan telah dekat pula saat hamba yang dikembalikan pulang kepada Allah ta’ala dan menemui surgaNya. Kalau sudah datang saat ajalku, hendaklah Aly yang memandikan, Fadhal bin Abas yang menuangkan air, dan Usamah bin Zaid yang menolong keduanya, kemudian kafanilah aku dengan pakaianku sendiri, bila kamu sekalian menghendaki, atau dengan kain Yaman yang putih; Kalau kamu sekalian memandikan aku, maka taruhlah aku diatas balai tempat tidurku dirumahku ini, dekat dengan lobang lahatku. Sesudah itu keluarlah kamu sekalian barang sesaat meninggalkan aku. Pertama-tama yang mensholati aku ialah Allah Aza wajalla, kemudian malaikat Jibril, kemudian malaikat Isrofil, malaikat Mikail, kemudian malaikat Izroil dan beserta para pembantunya, selanjutnya semua para malaikat. Sesudah itu masuklah kamu sekalian dengan berkelompok-kelompok dan lakukan sholat untukku.”

Setelah mereka mendengarkan ucapan perpisahan Nabi Muhammad saw, mereka para sahabat menjerit dan menangis seraya berkata, “Wahai Rosullullah, Engkau adalah seorang Utusan untuk Kami sekalian , menjadi kekuatan dalam pertemuan Kami dan sebagai penguasa yang mengurus perkara Kami, bila mana Engkau telah pergi dari Kami, kepada siapakah Kami kembali dalam segala persoalan?”
Rosullullah bersabda,”Telah kutinggalkan kamu sekalian pada jalan yang benar dan diatas jalan yang terang dan telah kutinggalkan pula untuk kamu sekalian dua penasehat yang satu pandai bicara yang satunya diam saja, yang pandai bicara adalah al-Qur’an dan yang diam adalah ajal atau kematian. Apabila ada persoalan yang sulit bagimu, maka kembalilah kamu sekalian kepada Al-Qur’an dan kepada sunnah. Dan kalau hati kamu keras membatu maka lunakkan dia dengan mengambil tamsil ibarat dari hal ihwal mati.
Sesudah itu maka Rosullullah saw menderita sakit mulai akhir bulan Shafar selama delapan belas hari. Para sahabat pun menengok silih berganti. Sedang penyakit yang diderita mulai hari pertama sehingga akhir hayatnya ialah pusing kepala.
Rosullullah mulai menjadi Rosullullah pada hari senin dan wafat juga pada hari senin. Tatkala pada hari senin, penyakit beliau bertambah berat. Maka setelah Bilal selesai adzan subuh, dia pergi menghampiri pintu rumah Rosullullah saw sambil mengucapkan salam, “Assalamu alaika ya Rosullullah!” Siti Fatimah menjawab, “ Rosullullah masih sibuk dengan dirinya sendiri” Bilal terus kembali masuk ke Masjid, dia tidak memahami kata-kata Fatimah. Ketika waktu subuh makin terang, Bilal datang lagi menghampiri pintu rumah Rosullullah saw dan salam seperti semula. Rosullullah mendengar suara Bilal itu, maka beliau bersabda: ‘’ Masuklah hai Bilal, aku masih sibuk terhadap diriku sendiri dan penyakitku rasanya bertambah berat. Maka suruhlah Abu Bakar agar sholat berjamaah dengan orang-orang yang hadir. Bilalpun keluar sambil menangis dan meletakkan tangannya diatas kepala, sambil mengeluh, “Aduh musibah, susah, terputus harapan, telah habis hilang tempat tujuan, andaikata ibuku tidak melahirkan aku.”
Bilal terus masuk masjid dan berkata,”Hai sahabat Abu Bakar, sungguh Rosullullah menyuruh engkau agar sholat bersama-sama dengan orang yang hadir, karena Beliau sibuk mengurusi dirinya yang sedang sakit. Ketika Abu Bakar melihat mihrab (tempat sholat imam) kosong dan Rosullullah tidak hadir, maka Abu Bakar menjerit keras sekali dan jatuh tersungkur karena pingsan. Maka ributlah kaum muslimin, sehingga Rosullullah mendengar keributan mereka, dan bertanya kepada Fatimah, “Hai Fatimah mengapa pagi ini, dan apakah keributan di sana itu?” Siti Fatimah menjawab, “Keributan di sana itu ialah kaum muslimin sendiri , karena engkau tidak hadir”. Maka Rosullullah saw memanggil Ali dan Fadhan bin Abbas, lalu beliau bersandar kepada keduanya dan keluar rumah menuju masjid lalu sholat bersama-sama dengan mereka dua rekaat. Selesai sholat beliau berpaling ke belakang dan bersabda, ”Hai kaum muslimin, Kamu semua dalam pemeliharaan dan pertolongan Allah, oleh sebab itu bertaqwalah kepada Allah serta mentaatinya, maka sesungguhnya saya akan meninggalkan dunia ini. Dan di hari ini hari pertamaku di akhirat dan hari terakhir bagiku di dunia”.
Lalu Rosullullah saw berdiri dan pulang ke rumahnya. Kemudian Allah ta’ala memberi perintah kepada malaikat kematian, ”Turunlah Engkau kepada KekasihKu dengan sebaik-baiknya bentuk, dan lakukan dengan halus dalam mencabut ruhnya, kalau dia mengijinkan kamu masuk, masuklah dan kalau tidak mengijinkan maka janganlah masuk dan kembalilah”.
Maka malaikat kematian pun turun dengan bentuk seperti orang Arab Baduwi desa, seraya mengucapkan salam, “Assalamu ‘alaikum ya ahlal baiti nubuwwati wa ma’danir risalati adkhulu?(mudah-mudahan keselamatan tetap untuk kamu sekalian, wahai penghuni rumah kenabian dan sumber risalah, apakah saya boleh masuk?) ”
Maka Rosullullah saw mendengarkan suara malaikat kematian itu dan bersabda, “Hai Fatimah, siapa yang berada di pintu?” Siti Fatimah menjawab, “Seorang Arab Baduwi yang memanggi dantelah aku katakan bahwa Rosullullah sedang sibuk menderita sakitnya, kemudian memanggil lagi yang ketiga kali seperti itu juga, makadia memandang tajam kepadaku, sehingga menggigil gemetar badanku, terasa takut hatiku dan bergeraklah sendi-sendi tulangku seakan-akan hampir berpisah satu sama lainnya serta berubah menjadi pucat warnaku, Rosullullah saw bersabda, “Tahukah engkau wahai Fatimah, siapa dia” Siti Fatimah menjawab, “Tidak” Rosullullah bersabda, “Dia adalah Malaikat yang mencabut segala kelezatan, yang memutus segala macam nafsu syahwat, yang memisahkan perkumpulan-perkumpulan dan yang memusnahkan semua rumah serta meramaikan keadaan kuburan.”
Maka menangislah Siti Fatimah, dengan tangisan yang keras sekali sambil berkata, “ Aduhai celaka nantinya, sebab kematiannya Nabi yang terakhir, sungguh merupakan bencana besar dengan wafatnya orang yang paling taqwa, terputusnya dari pimpinannya para orang-orang yang suci serta penyesalan bagi kami sekalian karena terputusnya wahyu dari langit, maka sungguh saya terhalang mendengarkan perkataan engkau, dan tidak lagi bisa mendengarkan salam engkau sesudah hari ini” Kata Rosullullah, “Jangan Engkau menangis Fatimah, karena sesungguhnya, engkaulah dari antara keluargaku yang pertama berjumpa dengan aku”

Rabu, 01 Februari 2012

GERAKAN SEPARATISME OPM DAN INTERVENSI ASING HARSUS DIHENTIKAN




Jika ditelusuri kekisruhan di Papua selama ini  biang keroknya tidak lain adanya sepratis OPM  yang hendak memisahkan diri atau memerdekakan Papua dari NKRI.  Banyak pihak mayakini bahwa upaya tersebut  dilakukan melalui tiga elemen yang pokok yang terkait satu dengan lainnya yang saling bahu membahu.  Pertama adalah elemen gerakan bersenjata yaitu TPN/OPM (Tentara Pembebasan Nasional/Organisasi Papua Merdeka). Gerekan bersenjata inilah yang sudah puluhan tahun eksis membantai rakyat maupun para aparat yang bertugas di Papua.
 Selama ini TPN OPM  yang kerap melakukan berbagai penyerangan dan kontak senjata di Papua secara sadis, termasuk beberapa penyerangan pada akhir-akhir ini yang semakin   marak dan menghkawatirkan.    Elemen diplomatik di luar negeri seperti dua organisasi yaitu ILWP (International Lawyer for West Papua) dan IPWP (International Parliament for West Papua). perlu diketahui bahwa internasionalisasi masalah Papua bukan terjadi kali ini saja. Konferensi oleh ILWP itu diadakan   di Inggris adalah fakta bahwa asing telah bermain di Papua. Upaya internasionalisasi itu telah berlangsung lama. Misalnya pada 25 Oktober 2000 lalu, Direktur Lembaga Study dan Advokasi Hak Asasi Manusia (ELSHAM) Papua, John Rumbiak menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan Greg Sword, anggota parlemen tingkat negara bagian Melbourne dari Partai Buruh, yang intinya mereka mendukung setiap gerakan separatis Papua hingga kini.
 Ketiga, elemen politik dalam negeri baik LSM-LSM atau organisasi yang menguatkan tuntutan referendum baik melalui berbagai demonstrasi, seminar atau aktifitas lainnya. Diantaranya adalah aksi demontrasi pada 1 Desember  2011 lalu yang dimotori oleh KNPB (Komite Nasional Papua Barat). Kegiatan tersebut berlangsung  di  berbagai kota di Papua     dimaksudkan sebagai teror kepada pemerintah agar pemerintah melepaskan Papua sebagai bagian NKRI.
 Kemudian masalah lain yang tak kalah peliknya adalah  pemutarbalikkan fakta   masalah sejarah dan status politik integrasi Papua ke Indonesia. Dengan pemutar balikkan fakta sebagai pembentukan opini sesat mengakibatkan   sebagian orang Papua dianggap belum benar. Padahal Papua telah berintegrasi kedalam NKRI melalui Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) Papua tahun 1969 lalu kemudian disahkan oleh lembaga dunia PBB dengan nomor 2504. Dengan adanya pengakuan oleh PBB maka para aktivis LSM tidak ada artinya jika terus  menggugat ke mahkamah internasional kalau hanya membawa bendera organisasi. Perubahan integrasi dapat ditanggapi oleh PBB jika sudah mengatasnamakan Negara.
Walau demikian untuk menjadikan Papua aman  adalah pemerintah mengambil sikap tegas kepada para   separatis OPM dan antek-antek asing beserta para pendukung LSM   harus ditolak dan dihentikan. Penyelesaian tuntas masalah Papua  harus segera dilakukan percepatan  pemerataan  pembangunan yang adil dan merata sehingga terpenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok rakyat Papua secara keseluruhan.  Infrastruktur ekonomi, pendidikan dan kesehatan harus tersedia dalam menunjang keberhasilan pembangunan. Sehingga tidak ada lagi kesan seoalah-olah Papua tertinggal dibandingkan dengan daerah-daerah   lainnya.