LAT ANCAB TINGKAT BRIGADE TA 2012
Kamis, 02 Agustus 2012
Minggu, 15 Juli 2012
SEPARATISME PAPUA HARUS DIBERANGUS
| Add caption |
Negara mana pun di dunia ini pasti tidak akan memberi toleransi terhadap gerakan
separatis, apalagi namanya negara Indonesia. Tindakan tegas perlu diambil
apabila persoalan di Papua menyangkut masalah separatisme yang mengancam
kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal itu harus menjadi prinsip
utama dalam mengatasi berbagai insiden kekerasan yang muncul di Papua.
Aksi
menakutkan berupa teror dan kekerasan lainnya yang memakan korban jiwa terus
berulang di Papua, antara lain berupa teror penembakan, penculikan, dan
pembunuhan. Penembakan yang dilakukan orang tidak dikenal tersebut sampai kini
belum terungkap.Namun pelaku dibalik utama semua itu tidak terlepas dari campur
tangan separatis Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang selama ini eksis melakukan
tidakan kekerasan kepada masyarakat yang tak berdosa.
Kalimat tegas itulah yang sering ditunggu-tunggu oleh rakyat dan
seluruh bangsa Indonesia dari pihak pemerintah. Memang, belakangan banyak
kejadian penembakan yang dilakukan oleh kelompok bersenjata terhadap warga
sipil di tanah Papua. Bahkan, aparat pun tidak luput menjadi sasaran kekerasan oleh
tindakan separatis OPM. Untuk memberangus
separatis OPM tentunya tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Karena pada sisi lain TNI dan Polri sering dihadapi dilema yang
saat bertugas. Mereka sering dihadapkan pada dua pilihan sulit, yaitu menjalankan
tugas dan dituding melakukan pelanggaran HAM. Khusus untuk aksi separatis,
diharapkan aparat bertindak tegas. Meski demikian, tetap untuk berhati-hati
supaya tidak melanggar HAM.
Segala bentuk separatisme di Indonesia harus dihentikan dan diberangus,
karena bisa mengancam keutuhan bangsa, serta kedaulatan NKRI. Yang namanya mau
merdeka keluar dari NKRI itu bukan `freedom of speech`, itu separatis, harus
dihentikan.
Tantangan dan ancaman terhadap negara saat ini tidak ringan,
sangat kompleks sehingga perlu diantisipasi oleh TNI dan Polri. Tantangan
pertahanan dan keamanan bisa dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain mulai
munculnya aktor-aktor bukan negara yang berpotensi sebagai ancaman.
Selasa, 10 Juli 2012
BUDAYA BANGSA PENYANGGA PERSATUAN DAN KESATUAN BANGSA
Dinamika kehidupan kebangsaan sebagai suatu proses “menjadi”,
selalu mengalami dinamika pasang surut sejalan dengan dinamika kehidupan
sosial, politik,ekonomi dan kebudayaan seiring dinamika perubahan yang mondial.
Perubahan ini dapat dilihat dari cara pandang yang lazim dipergunakan dalam
melihat bangsa dan Negara yang selalu mengalami dinamika dari kurun waktu
tertentu ke kurun waktu yang lain.
Awalnya ketika para pendiri bangsa ini bersepakat untuk hidup
dalam satu kesatuan bangsa, telah bersepakat untuk bersatu menjadi Indoneisa
sebagai satu kesatuan Negara ,bangsa dengan dasar Pancasila dan konstitusi UUD
1945. Dalam perjalannannya, kesatuan dan persatuan bangsa mengalami tantangan
dengan terjadinya berbagai gejolak utamanya didaerah-daerah. Terjadinya gerakan
saparatis, terorisme merupakan contoh kasus adanya tantangan bagi persatuan dan
kesatuan NKRI.
Ada persoalan mendasar sesungguhnya yang terjadi atas berbagai
ketidak pusan tersebut yakni menyangkut cara pandang dan pendekatan yang
digunakan dalam memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa. Pada masa
pembangunan nasionalisme pendekatan heroic bahwa kita adalah satu bangsa, satu
nusa satu tanah air Indonesia menjadi titik sentral untuk membangun kesadaran
kebangsaan.
Disaat yang lain pembangunan kebangsaan dilakukan melalui
pendekatan sentralistik-otoriterian melalui pendekatan monolitik. Penndekatan
ini ternyata mengalami kegagalan, maka perlu ada perubahan orientasi dalam melihat
bangsa melalui pendekatan yang lebih komprehensif sesui dengan jatidiri bangsa.
Upaya ini dapat dilakukan melalui perubahan orientasi dan cara
pandang sebagai wawasan baru dalam melihat nusantara. Pada masa sebelum
reformasi, cara pandang ke-Indonesia-an dilakukan melalui pendekatan
sentralistik dengan mengedepankan nilai “bahwa kita adalah sama”, cara pandang
ini dilakukan dengan cara represif sehingga setiap orang yang berusaha
menunjukkan “perbedaan” dianggap bertentangan dan bahkan sebagai musuh yang
mensti “ditertibkan” atau “dibina”.
Pendekatan dengan cara menyamakan dan menyeragamkan perbedaan
inilah kemudian memunculkan berbagai
aturan yang menempatkan budaya dominan dalam kebudayaan minoritas. Ujungnya terjadi
“perlawanan” dari masyarakat utamanya didaerah-daerah yang sesungguhnya
memiliki kekhasan dan perbedaan sebagai pesona yang mesti dihargai dan
dihormati. Pendekatan sentralistik-otoriterian dengan pola penyeragaman ini,
menafikan realitas sosial bangsa Indonesia yang sesungguhnya terbangun dari
perbedaan dan keanekaragaman budaya.
Gerakan reformasi yang dilakukan secara secara menyeluruh menjadi momentum bagi bangasa
Indonesia untuk melakukan perubahan bagi segenap aspek kehidupan termasuk
cara pandang dalam melihat bangsa Indonesia sesuai dengan jati diri ke-
Indonesiaa -an. Jadi diri ini sudah sangat jelas terpampang dalam lambang
Negara Pancasila yakni Bhineka Tunggal Ika. Reformasi cara pandang dalam
melihat bangsa dan Negara Indonesia harus dimulai dari titik pandang Bhineka Tunggal
Ika, sebagai realitas sosial dan budaya yang membingkai kehidupan kebangsaan
Indonesia. Dalam khasanah pos modernisasi akan mengahsilakan cara pandang ini dapat disetarakan dengan
pendekatan berbagai budaya.
Rabu, 04 Juli 2012
DI PERBATASAN RI-PNG OPM BERSARANG
Tindakan
Organisasi Papua Merdeka beberapa bulan terakhir ini utamanya memasuki tahun
2012 sejumlah rentetan kemanusian telah terjadi di Papua. tindakan OPM tersebut
menjadi sorotan berbagai pihak soal ulah
Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang tidak kunjung berhenti. Tindakan tersebut
membuat para aparat gerah.
Akibat tindakan tersebut memaksa Kapolda
Papua Irjen Pol Bigman Lumban Tobing memberikan statemen yang mengatakan
bahwa pihaknya bersama TNI akan segera meringkus
kelompok bersenjata OPM yang dipimpin Lambertus Pekikir
TNI
sudah sepakat dengan Polisi akan
bersinergi untuk menumpas para pelaku
kriminal yang masih bercokol di Papua.
Tindakan yang dilakukan oleh
kelompok bersenjata tersebut telah meresahkan warga Keerom dan Papua pada
umumnya sehingga tidak ada alasan bagi Polri bersama TNI untuk menunda pelaku
kejahatan yang kerap merepotkan aparat dan warga masyarakat Papua lainnya.
Menurut informasi yang kami ketahui
bahwa Badan Intelijen Negara (BIN) menyebutkan, pelaku penembakan iring-iringan
mobil TNI yang ditumpangi Komandan Batalyon 431 Kostrad Letkol Inf. Indarto di
Papua beberapa waktu yang lalu sudah
diidentifikasi, terlebih lagi setelah mereka lari ke daerah perbatasan. Kepala
BIN Marciano Norman sebagaimana yang banyak dilansir oleh berbagai media menuturkan,
kelompok penyerangan memang selama ini berada di perbatasan Indonesia-Papua
Nugini. Pelaku penyerangan diduga lari menuju perbatasan sehingga tidak
berhasil ditangkap.
Namun, menurut Marciano, aparat
keamanan makin mudah untuk mengetahui siapa dan kelompok mana, sehingga bersiap
mengambil langkah-langkah antisipatif."Mereka lari ke daerah perbatasan.
Kita perkirakan mereka itu kelompok-kelompok yang memang ada di perbatasan.
Tapi, dengan pengelompokan itu, sudah makin terarah sehingga operasinya lebih
mudah.
Perlu dipahami bersama bahwa pelaku penembakan ada yang lari ke daerah
perbatasan. Untuk memburu sekaligus
meringkus anggota OPM itu sendiri tidak mudah. TNI adan aparat kepolisian harus segera bahu membahu untuk terus mengejar para pelaku
kejahatan kemanusian. Sebab apabila ini diabiarkan bukan tidak mungkin satu
persatu akan korban berjatuhan secara terus menerus. Seperti diketahui, penembakan atas
iring-iringan mobil Danyon 431 Kostrad menewaskan seorang kepala kampung Sawia,
Yohanes Yanufrom, Minggu (1/7). Yohanes, yang belakangan diduga sebagai John,
tewas ditembak di bagian kepala dan dada.
Dengan
demikian sudah terang dan jelas bahwa insiden
penembakan itu diciptakan oleh OPM sebagai
upaya untuk
menarik perhatian luas dan memancing reaksi dari pemerintah dan luar negeri.
Ini lagu lama OPM yang kerap selalu membesarkan opini dan eksistensi kelompok itu
pada klaimnya tentang hari ulang tahun 1 Juli. Apakah dengan
memperingati ulang tahun harus membunuh sesama
manusia yang tidak berdosa? Seharusnya sebuah peringatan haruslah dengan penuh
keinsyafan dan kesyukuran kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tapi yang menjadi ironi
sebauh ulang tahun yang diperingati oleh OPM tumbalnya adalah saudaranya
sendiri. Sebuah persembahan yang sangat biadab dan hanya dapat dilakukan
oleh orang-orang yang tidak memiliki
rasa kemanusian dan mengindahkan norma Tuhan selaku ciptaannya dimuka bumi.
Selasa, 03 Juli 2012
PELAKU KEKERASAN DI PAPUA PERLU DITINDAK TEGAS
Tindakan kekerasan yang terjadi di Papua bebrapa bulan terakhir ini ada opini yang berkembang dalam masyarakat bahwa hal tersebut dibiarkan. Kesan itu menurut penulis tidak sependapat dan sangat menyangsikan kalau dikatakan terjadi proses pembiaran aksi-aksi kekerasan di Papua. Namun kalau dikatakan kasus kekerasan di Papua belakangan ini lebih dilatarbelakangi oleh motivasi politik Itu benar adanya.
Indikasinya jelas, kelompok separatis dan variannya begitu keras menolak program Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat (UP4B), yang pada dasarnya memiliki tujuan positif dalam rangka meningkatkan kesejahteraan rakyat Papua. Namun demikian, opini yang berkembang di masyarakat kemudian diputarbalikkan, sehingga masyarakat ikut-ikutan menolak UP4B.
Kekerasan di Papua juga dimaksudkan untuk menutup perhatian aparat keamanan terhadap agenda politik dari kelompok separatis yang akan melakukan konsolidasi kekuatan massa maupun konsep perjuangan menuju lepasnya Papua dari NKRI. Selain itu ada indikasi kuat untuk melibatkan asing dalam masalah Papua, sehingga diharapkan gerakan separatis Papua mendapatkan seluruh pemangku keamanan di Papua.
Perlu ada solusi dan langkah yang komprehensif yang harus dimulai dari jajaran Pemerintahan sipil Pusat, Provinsi, kabupaten, MRP, DPRP dan DPRD, agar mengambil inisiatif untuk melakukan komunikasi dengan pihak keamanan guna memastikan masih adanya jaminan keamanan bagi siapa saja di Papua.
Pihak keamanan khususnya pihak kepolisian harus lebih didorong lagi agar dapat mengungkapkan berbagai aksi kekerasan yang terjadi, dan memprosesnya secara hukum. Sehingga dapat mencegah kembalinya aksi kekerasan lainnya baik sebagai peristiwa tersendiri maupun peristiwa yang berlanjut dari peristiwa sebelumnya.
Langkah komprehensif Pemerintah dalam menciptakan kedamaian di Papua haruslah dilakukan melalui cara-cara yang damai dengan mengedepankan dialog antara pihak Pemerintah dengan melibatkan seluruh rakyat dan pemangku adat Papua. Pola pendekatan budaya dan pendidikan harus dikedepankan, agar masyarakat Papua bisa ikut merasakan dilibatkan dalam proses perdamaian. Bukan hanya pendekatan ekonomi yang hanya dinikmati oleh kalangan elit di Papua.
Senin, 02 Juli 2012
TINDAK TEGAS PENGANCAM DISINTEGRASI BANGSA
Persatuan
dan kesatuan bangsa dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)
adalah harga mati yang harus dipelihara dan dipertahankan. Semua elemen dan
komponen bangsa wajib hukumnya menjaga, memelihara dan menumbuh-kembangkan rasa
persatuan dan kesatuan bangsa. Semua pihak yang akan mengancam keutuhan NKRI
harus ditindak tegas.
Pemerintah
harus berani menindak tegas pengancam
disintegrasi bangsa mengingat ancaman ke arah itu kini semakin vulgar. Provokator-provokator pendukung gerakan
separatis seperti di Papua sudah jelas adalah musuh nyata yang harus
ditumpas. Hal
ini dipertegas dengan pernyataan koordinator Tentara Pertahanan Nasional
Organisasi Papua Merdeka, Lambert Pekikir, yang pernah mengatakan dan sempat dilansir oleh berbagai media dengan mengatakan
bahwa memang benar, pihaknya akan melakukan penembakan dengan target
kelompoknya adalah kendaraan militer yang melintasi Jalan.
Pernyataan tersebut tentunya menggelitik kita
bahwa kelompok anti NKRI telah ada dan nyata. Artinya musuh sangat terlihat
jelas didepan mata yang perlu kita basmi bersama. Dengan demikian selaku bangsa
yang berdaulat tentunya kita merasa prihatin dengan kondisi bangsa saat ini yang
mengancam integrasi bangsa. Pada sisi lain berbagai persoalan politik yang terus melanda Indonesia seperti masalah kasus
korupsi yang terus menggelinding bagai bola salju. Dengan berbagai problematika
yang dihadapi oleh bangsa ini tentunya memerlukan solusi yang tepat dalam
menangani sejumlah rentetan persoalan bangsa.
Ancaman
berupa pengibaran bendera OPM pada 1 Juli 2012 kemarin merupakan ancaman dan
rongrongan dari dalam yang perlu diselesaikan secara tuntas, sehingga perlu disikapi serius menyangkut
kedaulatan bangsa Indonesia. Yang patut kita junjung tinggi adalah NKRI.
Bagaimana pun NKRI adalah harga mati, dan Pancasila adalah ideologi negara yang
tidak dapat ditawar-tawar lagi.
Peranan
kaum pemuda sangat besar karena mereka tidak bisa lepas dari republik ini.
Namun sangat disayangkan subangsih pemuda untuk membangun negeri ini masih
kurang. Hal ini dibuktikan masih banyak konflik yang dipicu aksi tawuran
pemuda, tawuran mahasiswa, perkelaian kelompok pemuda, dan tawuran antar desa.
Kita
beraharap agar semua elemen dan komponen bangsa untuk tetap
menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, dengan saling bertoleransi, saling
menghormati dan saling membantu. Bangsa Indonesia menjadi besar dan maju jika
seluruh rakyatnya bersatu dan membangun bangsa secara bersama-sama. Jayalah
Indonesia, sejahteralah rakyatnya.
OPM OTAK PENEMBAKAN DI PAPUA
Beberapa bulan terakhir ini aksi penembakan di Papua terhadap aparat TNI, Polri dan warga sipil tidak diketahui siapa pelakunya. Ketika aparat melemparkan tuduhan terhadap Organisasi Papua Merdeka (OPM) sebagai pelakunya, spontan banyak pihak spontan bantahan. Bukan hanya tokoh masyarakat di Papua, tetapi kelompok LSM di dalam negeri mecurigai pihak lain sebagai pelakunya.
Jika dianalisa secara cermat pelaku penembakan di Papua selama ini pelakunya sudah pasti adalah orang terlatih. Hal itu bisa terlihat dari cara si pelaku yang mahir menembak dan tepat sasaran serta menggunakan senjata. Kita saja selaku orang sipil saja bisa identifikasi bahwa inilah ciri-cirinya, sekarang tinggal dicari siapa orang di Papua yang punya kemampuan seperti itu.
Analisa tersebut diatas telah didukung sejumlah asumsi dan fakta bahwa para pelaku penembakan miterius adalah orang yang terlatih. Akan tetapi kelompok terlatih di Papua bukan hanya TNI maupun Polri , karena Papua adalah daerah koflik bersenjata disana ada OPM. Kelompok ini sudah lama melakukan perlawanan dalam bentuk bersenjata dengan tujuan Papua merdeka pisah dari Republik Indonesia. Tentunya kelompok bersenjata ini terlatih dan tidak asal melakukan perlawanan.
Perlu diketahui bahwa karakter orang Papua memiliki ciri khusus yang suka berperang antar suku mereka lihai menggunakan persenjataan tradisional. Ketika mereka melakukan perlawanan terhadap negara, sudah pasti mereka berlatih dan ada pihak yang melatih untuk bertempur dan menggunakan persenjataan modern. Hal ini dipertegas dengan pernyataan koordinator Tentara Pertahanan Nasional Organisasi Papua Merdeka, Lambert Pekikir, mengatakan memang benar, pihaknya melakukan penembakan dengan target kelompoknya adalah kendaraan militer yang melintasi Jalan.
Jadi sudah jelas siapa dibalik aksi terror penembakan selama ini di Papua . Tidak perlu disangasikan , jika ada kelompok masyarakat yang ini ingin memisahkan diri dari republik ini maupun dimanapun negara, pastinya mereka akan melakukan perlawanan diantaranya dengan senjata.
Oleh karenanya kita berharap agar Papua merupakan bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, sudah saatnya seluruh komponen bangsa harus ikut serta tuntuk memberikan dukungan dan memotivasi kepada TNI maupun Polisi dalam rangka menjaga keamanan di Papua dan menolak segala aktivitas perlawanan OPM untuk memisahkan Papua dari NKRI.
Langganan:
Postingan (Atom)