Bila memungkinkan jika ada warga yang secara sukarela mau menyerahkan senjatanya, diberikan semacam hadiah sebagai pengganti atas kesadarannya memberikan senjatanya kepada aparat terkait. Kita berharap agar cara seperti ini paling efektif dilakukan terhadap warga yang masih memiliki dan menyimpan senjata api di sana untuk menghindari jatuhnya korban yang lebih banyak lagi. Semoga!
Rabu, 13 Juni 2012
PAPUA SEMAKIN MEMANAS
Bila memungkinkan jika ada warga yang secara sukarela mau menyerahkan senjatanya, diberikan semacam hadiah sebagai pengganti atas kesadarannya memberikan senjatanya kepada aparat terkait. Kita berharap agar cara seperti ini paling efektif dilakukan terhadap warga yang masih memiliki dan menyimpan senjata api di sana untuk menghindari jatuhnya korban yang lebih banyak lagi. Semoga!
Selasa, 12 Juni 2012
AKSI KEKERASAN DI PAPUA HARUS SEGERA DIHENTIKAN
Aksi
menakutkan berupa teror dan kekerasan lainnya yang memakan korban jiwa terus
berulang di Papua, antara lain berupa teror penembakan, penculikan, dan
pembunuhan. Penembakan yang dilakukan orang tidak dikenal tersebut sampai kini
belum terungkap.Namun pelaku dibalik utama semua itu tidak terlepas dari campur
tangan separatis Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang selama ini eksis melakukan
tidakan kekerasan kepada masyarakat yang tak berdosa.
Apalagi sejak awal tahun 2012 hingga memasuki bulan Juni 2012 menurut informasinya tercatat sekitar
19 kasus kejadian yang menewaskan 17 orang, baik warga sipil
maupun aparat keamanan. Peristiwa terakhir terjadi pada 10 Juni 2012 kemarin
terjadi penembakan terhadap seorang
satpam sekaligus tukang ojek di halaman Kampus Universitas Cendrawasih.
Kualitas kekerasan di Papua akhir-akhir ini cenderung meningkat.
Jika tahun lalu pencegatan dan penembakan terjadi di pinggiran kota, seperti
Nafri dan Abe pantai, kini teror telah merangsek ke jantung Kota Jayapura.
Rentang waktunya pun semakin berdekatan.
Di Kota Jayapura dalam dua
minggu terakhir ini telah terjadi tiga kali penembakan dan satu
pembakaran mobil. Peristiwa pertama terjadi pada 23 Mei 2012 warga menemukan
sebuah kendaraan dibakar di Waena dan di dalamnya ditemukan sesosok mayat. Lalu
kemudian pada 29 Mei 2012, seorang warga Jerman, Dietma Pieper, ditembak orang
tak dikenal saat berekreasi di Pantai Base G, Jayapura. Kemudian disusul pada 4 Juni 2012, telah terjadi penembakan terhadap Gilbert Febrian Madika,
siswa SMA di Jaya Pura.
Yang paling mengejutkan kita semua ketika pada 6 Juni 2012, pukul
21.00 WIT, di Jayapura, Arwan, pegawai negeri sipil di lingkungan Kodam XII
Candrawasih, tewas tertembak oleh orang tidak dikenal. Lokasi penembakan tidak
jauh dari Kantor Wali Kota Jayapura saat korban berjalan kaki menuju rumahnya.
Korban tewas dengan luka tembak pada bagian leher.
Dengan adanya sejumlah rentetan kasus penembakan di Papua tidak
ada jalan lain kecuali pelakunya harus
diusut tuntas. Aparat TNI dan Polri harus antisipasi agar kejadian serupa tidak
terulang kembali. Perlu diantisipasi bahwa rentetan kasus penembakan terhadap warga
sipil dan aparat keamanan tidak menutup kemungkinan ada upaya kelompok
separatis untuk menginternasionalisasi masalah Papua. Aksi separatis OPM harus
segera dihentikan dan ditumpas hingga keakar-akarnya agar warga masyarakat
Papua dapat beraktifitas kembali sama seperti dengan daerah lainnya yang ada di
Indonesia.
Senin, 11 Juni 2012
ADA DUGAAN TANGAN ASING DI BALIK GEJOLAK PAPUA
Pada beberapa hari terakhir ini berita tentang Papua kian mencuat
dan menjadikan head lines oleh berbagai media di tanah air. Trend pemberitaan
masalah Papua terkait masalah penembakan terhadap aparat militer dan sipil
terus terjadi di tanah Papua. Lalu dimana keterlibatan pihak asing dalam
keterlibatan dalam sejumlah penembakan beberapa hari terjadi di Papua?
Menurut Wakil Ketua Komisi I DPR, TB Hasanuddin pernah
mengatakan bahwa bahwa ada dugaan tangan
asing yang ikut berperan dalam rentetan gejolak di wilayah Indonesia paling
timur itu. Melihat data tindakan
kekerasan yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir saja, korban telah
berjatuhan tersebar di hampir semua kota di wilayah Papua.
Salah satu contoh rentetan peristiwa yang ibaratnya bertali temali
artinya saling menyambung antara peristiwa satu dengan peristiwa lainnya.
Seperti dimulai dari pada kasus Sorong
satu orang warga sipil meninggal, di Puncak Jaya tujuh orang aparat meninggal
dan satu luka, warga sipil yang ikut jadi korban meninggal lima orang dan luka
dua orang.
Lalu kemudian kejadian di
Mulia satu orang aparat meninggal, di Wamena satu orang aparat meninggal, di
Abepura empat warga sipil meninggal, di Jayapura satu aparat meninggal dan lima warga sipil meninggal. Sementara di
Merauke dua aparat meninggal, di Timika/mimika tiga aparat meninggal dan satu
luka, korban dari warga sipil tiga luka, di Paniai satu warga sipil meninggal
dan empat luka.
Jika dicermati dalam sejumlah kasus tersebut bahwa dari
wilayah penyebaran dan waktu kejadiannya, terlìhat jelas kasus ini sepertinya
terorganisir dengan rapi, sistimatis dalam memilih sasaran, direncanakan dengan
baik dan dengan biaya yang cukup besar melalui operator lokal di lapangan.
Tentunya dalam menjalankan misinya tersebut telah memiliki tujuan antara lain menciptakan instabilitas di Papua
dalam rangka mendorong dan mempercepat Papua keluar dari wilayah NKRI. Ketika
skenario itu muncul, pemerintah dan aparat TNI dan Polri di daerah dalam
keadaan tidak solid (atau dibikin tak solid?). Pemda tidak efektif sama sekali,
disusul dengan riuh rendahnya pilkada yang menimbulkan ketegangan-ketegangan
baru.
Oleh karenaya kita berharap kepada aparat TNI dan Polri yang
berada di Papua agar segera bertindak tegas kepada siapapun yang bertindak
anarkis. Tembak ditempat kalau perlu dilakukan demi untuk mencegah tindakan
brutal para pelaku kejahatan. Masyarakat Papua harus segara bahu membahu
bersama berbagi aparat yang ada di Papua untuk bersinergi melawan tindak
kejahatan. Jangan berikan kesempatan pelaku kejahatan bercokol di Papua walau sedetikpun.
Selasa, 05 Juni 2012
PEMBANGUNAN DI PAPUA HARUS PERCEPAT
Papua merupakan bagian NKRI sudah
final dan diakui dunia. Permasalahan Papua adalah permasalahan dalam negeri.
Pemerintah telah berupaya mengatasi permasalahan di Papua dengan pendekatan
kesejahteraan melalui percepatan pembangunan di Papua. Upaya pemerintah ini
layak didukung semua pihak agar Papua tidak bergejolak lagi, jika masyarakatnya
sudah sejahtera.
Persoalan Papua
akhir-akhir ini mencuat kembali setelah banyaknya kasus gangguan keamanan yang
diduga dilakukan kelompok separatis Papua, dan meresahkan masyarakat. Banyak
pihak yang menilai permasalahan Papua akibat kurangnya komunikasi antara
pemerintah pusat dan daerah, serta belum meratanya pembangunan di Papua. Untuk
itu, pemerintah telah berupaya untuk mempercepat pembangunan di Papua melalui
Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 65 Tahun 2011 tentang Percepatan Pembangunan
Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat dan Perpres 66 Tahun 2011 tentang UP4B.
Berbagai seperti
tokoh Papua Paskalis Netep pernah mengatakan bahwa sesungguhnya gejolak yang
terjadi di Papua akibat pemerintah pusat masih belum secara maksimal memberikan
perhatian kepada masyarakat asli Papua, meski sudah ada Otonomi Khusus (Otsus).
Pemerintah diminta untuk arif dan bijaksana dengan pendekatan adat dalam
menyelesaikan masalah Papua. Ada kekeliruan besar yang dilakukan negara yakni
belum adanya prioritas pembangunan empat bidang yakni pendidikan, kesehatan, kesejahteraan
dan infrastruktur. Sehingga, muncul ketidakpuasan dari masyarakat asli Papua.
Namun demikian
pemerintah segera menjawab krtikan tersebut dengan menjawab persoalan konflik di Papua dengan membentuk Unit
Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Papua Barat (UP4B). perlu diketahui bahwa pada tahun 2012 ini, dana otonomi khusus untuk Papua
dianggarkan Rp3,83 triliun dan Papua Barat Rp1,64 triliun. Selain itu, pada
2012 juga dialokasikan dana tambahan infrastruktur untuk Papua Rp571,4 miliar
dan Papua Barat Rp428,6 miliar.
Kita berharap
seluruh kemampuan yang dimiliki oleh pemerintah agar optimal. Sebab untuk mempercepat pembangunan di Papua harus
dilakukan secara terpadu dan didukung semua pihak, dengan tujuan utama
mensejahterakan rakyat Papua yang merupakan bagian dari masyarakat Indonesia.
Perlu adanya pemahaman yang sama antara pemerintah pusat dan daerah, terkait
percepatan pembangunan tersebut. Sosialisasi di masyarakat tentang upaya
percepatan pembangunan perlu digalakan melalui berbagai media dan kesempatan.
Senin, 04 Juni 2012
PANCASILA JANGAN DILUPAKAN
| Add caption |
Momentum
peringatan hari Pancasila setiap bulan Juni ini harus dijadikan momentum yang
tepat sebagai bangsa Indonesia untuk mengevaluasi,
apakah kehidupan berbangsa dan bernegara kita sudah baik ataukah malah merosot.
Peringatan hari lahir Pancasila kemarin sebagai kilas balik untuk tidak melupakan
Pancasila, baik sebagai dasar negara maupun sebagai falsafah hidup bangsa
Indonesia.
Pancasila selama ini sudah
teruji kemampuannya untuk mempersatukan bangsa Indonesia. Sehingga rasa
kebhinekaan tetap terjaga dan kerukunan umat terbina dengan baik. Gotong royong
dan saling membantu sebagai cirri khas kehidupan bangsa Indonesia kini mulai
luntur seiring semakin menipisnya rasa kebangsaan tanpa dilandasi dasar negara
Pancasila. Kenapa demikian, karena selama era reformasi seolah Pancasila mulai
ditinggalkan. Sehingga wajar kalau konflik social sering terjadi karena sudah
tidak ada norma dan nilai-nilai yang dipahami masyarakat.
Ketua Dewan Direktur Lembaga Kajian Publik Sabang-Merauke Circle
(SMC), Syahganda Nainggolan, meminta semua kekuatan tokoh bangsa, baik dalam
pemerintahan, politik, maupun kemasyarakatan untuk mengembalikan tegaknya
nilai-nilai Pancasila. Upaya ini perlu dilakukan agar suasana kehidupan
bernegara serta bermasyarakat dapat terwujud secara berdaulat, harmonis, dan melahirkan
kemartabatan rakyat untuk hidup sejahtera. Para tokoh bangsa tidak boleh
bersikap abai atas terjadinya kemerosotan nilai Pancasila. Pengabaian ini
membuat keadaan masyarakat kehilangan pedoman luhur dalam berbangsa.
Sekarang ini sangat terasa bahwa terkikisnya hasrat solidaritas
sosial maupun persatuan nasional, lemahnya pengaturan kepentingan rakyat
terhadap modal asing, berkembangnya perekonomian kapitalisme yang anti rakyat
dan sangat neoliberalistik, serta hilangnya kebanggaan pada nasionalisme
keindonesiaan.
Kondisi sosial kemasyarakatan semakin mencemaskan karena mudah
tersentuh konflik, baik horizontal maupun vertikal, sementara tatanan hukum
yang mengendur dan tidak sepenuhnya mengayomi rasa keadilan rakyat juga begitu
memprihatinkan. Hal ini karena akibat terabaikannya nilai-nilai Pancasila.
Saya berharap para pimpinan nasional dan tokoh masyarakat tidak
melupakan Pancasila baik sebagai dasar negara maupun sebagai falsafah hidup
sehari-hari bangsa Indonesia. Dengan momentum hari Pancasila ini, mari kita
gelorakan kembali semangat Pancasila sebagai dasar negara dan falsafah hidup sabagai
bangsa yang berideologi Pancasila.
SIMBOL DAN ADAT ORANG ASLI PAPUA SERING DIPERJUAL BELIKAN
Komite Nasional Papua Barat (KNPB)
adalah sebuah kelompok masyarakat Papua yang berkampanye untuk kemerdekaan
Papua dan Papua Barat. Namun, dalam melakukan kampanyenya (aksi demo), KNPB
sering menggunakan simbol-simbol dan nama adat. Dalam aksi demonya, mereka juga
sering membawa senjata tradisional seperti panah, tombak maupun kapak yang
merupakan simbol adat dari orang asli Papua. Patut diketahui juga bahwa setiap
aksi demo yang dilakukan oleh kelompok KNPB ini selalu berakhir ricuh dan
anarkis.
Aksi demo yang dilakukan massa dari KNPB di Sentani, Papua, Senin
(4/6) lalu, berakhir rusuh. Polisi membubarkan aksi itu karena demo tersebut
tidak mendapat izin dari pihak kepolisian setempat. Akibat kejadian tersebut,
dua orang warga mengalami luka-luka terkena panah, dan seorang pendemo
meninggal diduga karena terinjak-injak massa saat dibubarkan aparat.
Kejadian bermula ketika massa KNPB dengan menggunakan sejumlah
truk hendak menuju arah Waena dihalau dan dibubarkan oleh aparat keamanan.
Karena tidak diperbolehkan melintas akhirnya massa bubar dan terpencar kembali
ke arah Sentani. Ketika sampai di Kampung
Harapan, beberapa orang massa KNPB melakukan pengrusakan sejumlah rumah warga
dan toko yang ada di sepanjang jalan Hawai Sentani. Selain itu, salah seorang
massa KNPB menghamburkan panah kemana-mana hingga mengenai warga.
Salah seorang Kepala Suku Besar Pegunungan Tengah-Jayawijaya, Alex
Silo Doga, sangat prihatin dengan apa yang dilakukan oleh KNPB itu. Menurutnya,
KNPB boleh-boleh saja melakukan demo, tapi jangan lagi membawa nama adat,
karena adat bukan alat mainan dan sembarangan untuk digunakan. Kalau mau
membawa nama adat, harus sesuai dengan yang telah diputuskan oleh adat dan
tidak boleh digunakan untuk hal-hal yang dapat mengganggu serta merugikan orang
lain.
Kita baru tahu, bahwa demo yang dilakukan oleh KNPB selama ini
ternyata hanya menjual simbol dan adat orang asli Papua (mengatasnamakan orang
Papua). Mereka juga telah membohongi anak-anak muda di Papua untuk ikut
berdemo. Banyak orang tua yang berharap agar anak-anaknya bersekolah dengan
baik, supaya menjadi manusia yang berguna bagi daerahnya kelak. Namun mereka
kecewa ketika anak-anaknya ikut-ikutan berdemo dan mengorbankan pendidikannya
demi berdemo. Akibatnya pendidikan mereka menjadi terbengkalai dan akhirnya
tidak pernah selesai.
Sekali lagi kita
meminta kepada KNPB agar tidak menjual simbol dan adat orang asli Papua serta
tidak mempengaruhi/memprovokasi anak-anak muda di Papua untuk berdemo yang
anarkis. Sebagai pemerhati Papua seharusnya kita patut senang dan
bersyukur, karena Pemerintah sudah memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada
orang asli Papua dalam mekanisme Otsus. Di sisi lain kita juga mengharapkan
kepada para aparat TNI dan Polri agar tegas dalam menindak pelaku kriminal.
Karena apabila dibiarkan maka simbol-simbol adat yang selama ini disakralkan di
Papua akan menjadi alat legitimasi untuk mencari keuntungan pribadi dan
kelompok.
Minggu, 03 Juni 2012
WILAYAH PERBATASAN DALAM DINIMAIKA KEHIDUPAN
Panjang garis
perbatasan Republik Indonesia dan Papua Nugini lebih kurang 780 kilo meter,
terdiri dari Kabupaten Jayapura di sebelah utara membujur ke selatan sampai
muara sungai di kabupaten Merauke. Garis batas itu ditandai dengan 52 patok
batas atau monumen meridian serta kondisi medan yang pada umumnya berupa hutan
belantara, pegunungan, dan sungai-sungai. Sementara itu terdapat beberapa
kabupaten yang berbatasan langsung dengan negara tetangga seperti Papua Nugini,
Australia, dan Guam. Mayoritas warga Papua yang hidup di kawasan itu hidup di
bawah garis kemiskinan, apalagi warga yang berada di perbatasan yang amat jauh
dari segala fasilitas publik.
Dalam rangka
peningkatan pembangunan dan ekonomi serta infrastruktur berupa jalan dan
jembatan serta pasar juga harus segera terealisasi. Hal yang paling mendesak
ialah pembangunan layanan kesehatan, penerangan listrik , pasar, tempat ibadah
maupun pendidikan, untuk itu diharapkan semua pihak yang berkepentingan
membangun Papua harus sesuai dan benar-benar
dalam rangka meningkatkan
kesejahteraan rakyat. Tidak ada aliran listrik pada malam hari, hal ini menjadi
kebutuhan mendesak bagi masyarakat yang tinggal di wilayah perbatasan.
Bagi personil
termasuk prajurit TNI yang bertugas di wilayah perbatasan bahwa kendala yang
ditemui adalah kurangnya infrastruktur jalan yang sempurna, jarak antara satu
pos dengan pos yang lain sangat jauh. Kondisi itu ditambah medan yang sulit
dipantau menjadi celah yang sering dimanfaatkan penduduk lokal untuk melakukan
aksi penyeludupan melalui jalan-jalan tikus. Aksi itu terjadi baik dari wilayah
Republik Indonesia ke Papua Nugini maupun sebaliknya.
Indonesia masih mempunyai sejumlah persoalan batas
wilayah,baik perbatasan darat maupun maritim yang hingga kini belumselesai.
Berbagai permasalahan tersebut berhubungan langsungdengan kedaulatan negara
yang harus ditangani secara serius olehpemerintah, antara lain melalui
pendayagunaan fungsi pertahanan,baik fungsi pertahanan militer maupun
nirmiliter secara terintegrasi demi mencapai hasil yang maksimal. Dalam
menangani masalah perbatasan Indonesia akan tetap teguh mematuhi berbagai Hukum
Internasional yang berlaku. Isu tentang pulau-pulau kecil terluar cukup beragam
dan kompleks, di antaranya menyangkut eksistensi, status kepemilikan, konversi
lingkungan, pengamanan dan pengawasannya.
Oleh karena itu kita berharap dalam
menghadapi berbagai kendala diwilayah perbatasan mengingat medan
yang sulit dijangkau maka seringnya para tentara
yang berjaga di pos-pos perbatasan dengan berjalan kaki seharian untuk
koordinasi antar pos, ditambah lagi bilamana kondisi cuaca buruk, seperti hujan
maka perjalanan darat tidak bisa dilakukan. Satu-satunya mobilitas hanya
bisa lewat udara. Perlunya pembangunan
darat sebagai alternatif untuk akses pendukung tugas keamanan. Mengingat daerah yang berkembang pentingnya
peningkatan keamanan yang terjamin guna menjaga kemungkinan gejolak.
Langganan:
Postingan (Atom)



