Selasa, 14 Mei 2013
Selasa, 07 Mei 2013
PAPUA BAGIAN NKRI TAK TERBANTAHKAN
Beberapa hari terakhir ini khususnya
memasuki bulan Mei 2013 Papua kembali menjadi soroton. Dimana kita dikejutkan sebuah berita adanya pembukaan kantor kampanye Free West Papua di Oxford mendapat
protes keras dari pemerintah Indonesia, karena dianggap mengganggu kestabilan
negara. Pemerintah Indonesia telah memanggil Duta Besar Inggris di Jakarta untuk
memerotes keras pembukaan kantor Organisasi Papua Merdeka (OPM) bernama Free West Papua di kota Oxford.Jurubicara
Kementerian Luar Negeri Indonesia, Michael Tene, mengatakan pemerintah Inggris
selalu menegaskan dukungannya terhadap kedaulatan Indonesia dan menolak gerakan
separatisme di Papua.
Sebenarnya Papua, sama seperti wilayah-wilayah
lainnya di nusantara, adalah sebuah wilayah yang kaya akan sumber daya alam.
Maka tidaklah mengherankan, di era krisis energi sekarang, banyak pihak yang
berebutan untuk menguasai sebanyak-banyaknya kekayaan. Papua adalah salah satu
rujukannya. Suka atau tidak suka, Papua adalah bagian integral negara Republik
Indonesia. Sudah sah menjadi bagian NKRI sejak mula Indonesia merdeka, 17
Agustus 1945. Apalagi diperkuat dengan adanya kesepakatan antara Pemerintah RI
dan Kerajaan Kolonial Belanda pada tanggal 27 Desember 1949. Belanda secara
resmi telah menyerahkan kedaulatan atas seluruh wilayah jajahannya kepada
Pemerintah Indonesia, dari Sabang hingga Merauke.
Delegasi RI saat itu, Mochammad Hatta
menandatangani perjanjian dengan Ratu Juliana, yang pada intinya Belanda harus
hengkang dari NKRI. Upacara penyerahan kedaulatan di Jakarta diwakili oleh Sri
Sultan Hamengku Buwono IX selaku Wakil Perdana Menteri RI dan Utusan Kerajaan
Kolonial Belanda, Tony Lovink. Fakta sejarah ini mempertegas segala bentuk
kesesatan berpikir tentang kemerdekaan Papua secara separatis, yang diprovokasi
Kerajaan Kolonial Belanda pada 1 Desember 1961. Mereka lupa, terhitung delapan
bulan sejak deklarasi tersebut, tepatnya 15 Agustus 1962, Belanda justru
terlibat dalam perundingan New York dan menandatangani New York Agreement untuk menyerahkan kembali Irian Barat ke dalam pangkuan
NKRI.
Agar
Belanda tidak kehilangan muka, teknis penyerahannya diatur tidak secara
langsung dari Belanda kepada Pemerintah Indonesia, tetapi melalui PBB. Maka dibentuklah suatu Badan Pelaksana
Sementara PBB yang diberi nama United Nations Temporary Executive Authority
(UNTEA). Badan ini berada di bawah kekuasaan Sekretaris Jenderal PBB. Dan pada
tanggal 1 Mei 1963 UNTEA menyerahkannya kepada Pemerintah Indonesia. Momentum inilah yang kemudian dikenal
dalam sejarah sebagai (re)integrasi Papua ke dalam NKRI hinga kini. Ingin tahu perkambangan aceh kunjungi http:bukanacehmerdeka.blogspot.com
Senin, 06 Mei 2013
PEMBUKAAN KANTOR OPM DI INGGRIS ADALAH PROVOKASI
Beberapa waktu yang lalu hubungan Diplomasi Indonesia
’sedikit’ memanas dengan Kerajaan Inggris berkaitan dengan dibukanya
Kantor Perwakilan OPM di Oxford, Inggris. Pembukaan tersebut dalam
hal ini Indonesia lah yang merasa dirugikan secara kedaulatan. Pada sisi lain
Inggris dianggap bermuka dua setelah beberapa tahun Inggris tidak mendukung
OPM namun mengizinkan adanya pembukaan kantor OPM. Tapi secera resmi pemerintah
melalui pemberitaan media manyatakan bahwa pembukaan kantor perwakilan Organisasi
Papua Merdeka di Oxford bukan mewakili sikap resmi pemerintah Inggris.
Secara
kedaulatan, langkah yang diambil pemerintah RI sudah tepat dengan melakukan potes
secera resmi kepada pemrintah Inggris. Apakah hal itu akan menyelesaikan
masalah? Nampaknya masih banyak pihak di Indonesia yang merasa kurang puas,
terlebih apabila Benny Wenda masih meneruskan perjuangannya untuk mendapatkan
hak kemerdekaan bagi Papua sendiri. Papua adalah milik Indonesia, dan itulah kata
sepakat yang tak boleh ditawar lagi. Terlebih, Papua sendiri yang terkenal dengan
tambang emasnya bagi sebagian orang menjadi sebuah ‘asset’ yang sekiranya
sangat layak dipertahankan.
Kita perlu pemahaman yang lebih dalam, bahwa upaya
mempertahankan Papua bukan karena mereka mempunyai tambang emas disana.
Mereka bukanlah sapi perahan. Mereka adalah saudara sebangsa dan setanah
air. Itu point pertama yang harus
dimengerti dan dipahami dalam
menyelesaikan berbagai persoalan yang terjadi di bumi cendrawasih tersebut. Yang
kedua, apa yang sudah kita lakukan sebagai bangsa Indonesia untuk membuat
mereka merasakan disana sudah nyaman. Jika belum pemerintah harus segera membenahi dan menyempurnakannya karena rakyat Papua mereka adalah memang anak bangsa? Bukan hanya sapi perahan
saja.
Tentu, peristiwa pembukaan kantor OPM di Inggris tidak menafik bahwa ada dugaan sokongan
pihak asing yang ingin menggerogoti kedaulatan negara Indonesia sendiri. Harus diakui juga secara
fakta bahwa masih banyak
warga Papua yang mencintai Indonesia tanpa pamrih. Mereka tetap bangga akan
Merah Putih. Lalu bagaimana dengan kita? Apa yang sudah kita lakukan?
Terlepas
dari hubungan diplomatik negara, penulis merasa pembukaan kantor Organisasi
Papua Merdeka di Oxford mungkin Inggris sangat diragukan lagi komitmennye
terhadap Indonesia. Yang perlu kita
lakukan sekarang adalah harus lebih mawas diri dari segala bentuk
kemunafikan negara-negara sahabat lainnya.
Selasa, 30 April 2013
PAPUA SIAPA YANG PUNYA
Ranah Papua adalah milik warga Papua,
milik warga negara Indonesia. Sejarah sudah mencatat, jauh sebelum Sumpah
Pemuda yang menyatukan tekad satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa.
Indonesia dan rakyat Papua sudah lama menggunakan bahasa Indonesia (Melayu).
Bahkan, 117 tahun sebelum Indonesia Merdeka, Papua sudah menjadi bagian tidak
terpisahkan dari Indonesia (Hindia Belanda). Yakni, ketika Papua dibawah
naungan Kerajaan Ternate yang menjadi bagian penting Hindia Belanda kala itu.
Seorang tokoh Papua, Laksamana Madya
TNI (Purn) Freddy Numberi menegaskan, bahwa Papua sebagai bagian tidak
terpisahkan dari NKRI, tidaklah terbantahkan. Karenanya, sikap sekelompok
masyarakat Papua yang mengingkari kenyataan tersebut tidaklah patut diteruskan.
Terlebih, kalau tekad memisahkan diri tersebut semata-mata karena ditunggangi
kepentingan asing.
Sikap ingin 'merdeka' yang dituntut
rakyat Papua, bukanlah hal yang haram. Namun, merdeka yang dimaksud disini
adalah merdeka dari kemiskinan, kebodohan, kertinggalan, dan merdeka dari
segala macam penindasan dengan tetap dalam bingkai NKRI. Lantas bagaimana
rakyat Papua bisa merdeka dari kemiskinan dan kebodohan?
Wacana dialog yang dikembangkan belakangan
ini, bisa jadi merupakan salah satu jalan keluar menyelesaikan konflik di
Papua. Setidaknya, dialog antar
berbagai pihak (pemerintah pusat
dengan warga Papua, warga Papua dengan warga Papua yang beda paham bisa
jadi akan memecah kebuntuan komunikasi yang terjadi sejauh ini. Namun, jauh
lebih penting dari itu adalah “Tegakkan dan laksanakan hukum di Papua”.
Mulailah dari pemberian penghargaan
kepada rakyat Papua. Namun, peluang itu harus diwujudkan dalam bentuk nyata dan
bukan hanya slogan. Pemerintah pusat telah memberikan contoh positif, ketika dimasa Presiden Gus Dur,
rakyat diberi janji dan langsung dilaksanakan yakni saat rakyat Papua diberi
kebebasan menyebut diri Papua sebagai ganti Irian Barat. Namun, kebebasan itu
tetap dalam kerangka NKRI.
Selanjutnya, tonggak penting lain
adalah manakala pemerintah pusat menerapkan Otonomi Khusus Papua.
Sayang, otonomi khusus itu dalam pelaksanaannya tidak dikelola dengan baik
oleh pemda setempat. Selain banyak
terjadi kebocoran keuangan yang dikorupsi, sebab lain adalah hingga saat ini
aturan pelaksanaan Otonomi Khusus Papua belum ada setelah beberapa tahun
diterapkan. Akibatnya, Otonomi Khusus berjalan tanpa panduan baku, Otonomi
Khusus Papua akhirnya berjalan dengan tafsir berbeda-beda. Hasilnya, sudah
tentu Otonomi Khusus masih belum memuaskan warga.
Memakmurkan rakyat Papua sudah
seharusnya dimulai dari rakyat Papua sendiri. Memberi kebebasan mereka mengatur
diri sendiri lewat Otonomi Khusus Papua. Namun, tentu saja aturan pelaksanaan
Otonomi Khusus tersebut harus dibuat, untuk kemudian dilaksanakan
sebaik-baiknya.
Sebagai penguasa, pemerintah pusat
sah-sah saja memberi arahan, karena itu
adalah hak pemerintah. Dan, selama warga Papua mampu mengatur dirinya sendiri dan tidak
melenceng dari bingkai NKRI, maka itulah awal dari kedamaian yang kita dambakan
bersama untuk tetap melanjutkan pembangunan dalam menuju kesejehtaraan yang
bermartabat dan demokratis.
Rabu, 28 November 2012
NEGARA MANAPUN TIDAK MENDUKUNG GERAKAN SEPARATIS PAPUA
Berbagai
peristiwa penembakan terhadap aparat keamanan dan warga sipil, memperlihatkan
bahwa konflik kekerasan masih ada di Papua. Aksi-aksi simbolis mendukung
gerakan separatisme, seperti pengibaran bendera Bintang Kejora, baik di Papua
maupun di luar negeri terus dilakukan sebagai propaganda, agar kegiatan OPM
mendapat dukungan dan simpati dari dunia luar. Keadaan ini menunjukkan bahwa
eskalasi ancaman dari OPM masih ada dan butuh penanganan secara serius.
Tetap eksisnya
Gerakan Separatis Papua yang menamakan diri Organisasi Papua Merdeka di Papua,
meskipun jumlahnya makin kecil namun masih tetap menjadi ancaman bagi
stabilitas keamanan di Papua. Disisi lain, hingga kini masih ada upaya dari OPM
di luar negeri untuk menggalang dukungan politik masyarakat internasional bagi
perjuangannya mewujudkan kemerdekaan Papua.
Kita jangan
khawatir tentang adanya isu-isu yang menyesatkan bahwa ada dukungan negara luar
dalam kegiatan separatis ini. Negara manapun tidak akan mendukung gerakan
separatis Papua. Sebagai contoh, Amerika Serikat melalui Duta Besarnya, Scot
Marciel menegaskan posisi Amerika Serikat terkait masalah Papua. Negara adidaya
tersebut secara tegas menyatakan tidak mendukung aksi separatisme yang ingin
membebaskan Papua dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mereka tetap
memandang Papua sebagai bagian dari wilayah Indonesia.
Demikian juga
Australia yang secara terang-terangan tetap mendukung Indonesia sebagai negara
berdaulat dan tidak mendukung sama sekali pergerakan OPM. Hal ini dapat dilihat
dari dukungan Australia melalui juru bicara Kedutaan Besar Australia, Ray
Marcello mengatakan apapun faktanya, Australia mendukung kesatuan wilayah
Indonesia dan tidak mendukung apapun yang merusak kesatuan itu. Australia tidak
mendukung pemisahan diri atau kemerdekaan apapun dari wilayah manapun di
Indonesia. Australia akan mendukung langkah apapun yang akan dilakukan
Indonesia untuk menangani hal-hal yang mengancam kesatuan wilayahnya.
Pernyataan dari
Duta Besar Amerika Serikat dan Juru Bicara Kedutaan Besar Australia tersebut
membuktikan bahwa negara mereka hormat akan integritas Indonesia sebagai negara
berdaulat dan menghargai cara-cara penyelesaian yang ditempuh pemerintah kita
berkaitan dengan gerakan separatis OPM.
Dengan adanya
dukungan dari negara lain dalam menyelesaikan masalah Papua menunjukkan bahwa
Indonesia dihormati dan dipandang sebagai negara yang berdaulat. Untuk itu,
khusus kepada aparat keamanan TNI/Polri, jangan ragu dalam bertindak. Mari kita bulatkan tekad agar, Papua dan
Papua Barat tetap bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. "Papua
bagian dari wilayah Indonesia, itu harus kita pertahankan”.
Senin, 26 November 2012
AWAS! AKSI SEPARATISME MANFAATKAN ISU HAM
Setiap kali menjelang bulan Desember
maka aktivitas separatisme Organisasi Papua Merdeka (OPM) semakin hari semakin
meningkat dan intens. Kegiatanya yang
dilakukan mulai dari pengibaran bendera
OPM, rapat gelap hingga melakukan tindakan teror kepada rakyat kepada yang
tidak berdosa hingga kepada aparat sekalipun. Tujuannya hanya
untuk menunjukkan eksistensi sebagai kelompok pemberontak yang ingin
diakui oleh dunia. Mereka terus melakukan propaganda internasional dengan
memanfaatkan isu pelanggaran HAM.
Upaya mengangkat
isu pelanggaran HAM di forum internasional terus diupayakan kelompok separatis,
diantaranya memanfaatkan penyelenggaraan Bali Democracy Forum (BDF). Menurut informasi
yang kami ketahui bahwa adanya upaya gerakan dari kelompok separatis
Papua merdeka mempengaruhi para peserta agar mengangkat isu pelanggaran HAM di
Papua. Australian West Papua Association (AWPA) mendesak Perdana Menteri
Australia Julia Gillard untuk mengangkat masalah kekerasan dan pelanggaran HAM
di Papua dalam forum BDF. AWPA juga mendorong agar Perdana Menteri PNG Peter
O’Niell membawa masalah Papua di forum BDF agar mendapat perhatian Presiden RI.
Joe Collins dari
AWPA mengatakan mengingat pentingnya acara BDF dan hubungan dekat Australia dan
Indonesia, diharapkan Australia bisa meningkatkan kerja sama dengan peemerintah
Indonesia dalam hal penegakan HAM di Papua. Kami juga berharap agar Komisaris
Tinggi PBB untuk HAM Navi Pillay yang akan menghadiri BDF juga berupaya
mendesak Indonesia memperhatikan masalah penegakan HAM di Indonesia, khususnya
di Papua.
Upaya kelompok
separatis Papua mempengaruhi para pemimpin dunia dalam forum BDF agar
mengangkat isu HAM di Papua, dalam rangka mendorong isu Papua ke tataran
internasional. Kegiatan kelompok separatis tersebut akan memojokkan posisi
Indonesia dan sangat merugikan Indonesia dalam menjaga integritas NKRI.
Kita berharap aparat
keamanan TNI dan Polri di Papua dapat mengantisipasi agar aksi peringatan HUT
OPM tidak dijadikan ajang memancing kekacauan di Papua. Sebab dapat ditebak
gerakan OPM akan melakukan berbagai cara agar aparat TNI dan Polri terpancing
untuk menindak kelompok OPM yang melakukan tindakan anarkis. Dengan begitu
kelompok yang dipersiapkannya begitu
gampang untuk memperkarakan pada HAM yang
telah dipersiapkan sebagai kedok dalam menjalankan berbagai aksinya.
Kamis, 22 November 2012
AKTIVITAS OPM MASIH MERESAHKAN
Patut kita bersyukur bahwa beberapa
hari terakhir ini mulai dari bulan Oktober hingga memasuki bulan November 2012
situasi keamanan di Papua secara keseluruhan masih dalam keadaan kondusif. Namun pada daerah-daerah tertentu seperti
basis OPM (Organisasi Papua Merdeka) dimana ia bercokol tentunya masih sangat
rawan. Sebagaimana dikatahui bersama bahwa sesungguhnya kekuatan OPM terbilang tidak begitu kuat
dengan persenjataan yang sangat minim, namun aksi OPM kerap merepotkan aparat
TNI/Polri yang bertugas disana.
Aksi penghadangan dan penyerangan
secara tiba-tiba terhadap aparat keamanan yaitu Polri maupun TNI,
mengkhawatirkan karena tindakan OPM tidak segan-segan melakukan tindakan
kekerasan bahkan menimbulkan korban luka dipihak aparat tentara dan polisi. Tindakan
OPM seperti inilah yang harus terus ditumpas hingga dapat memberikan jaminan
keamanan masyarakat agar dapat beraktivitas.
Walaupun aksi penyerangan OPM ini
berskala kecil namun setidaknya akan mempengaruhi situasi dan kondisi keamanan
di daerah tersebut. Aparat keamanan baik Polri maupun TNI seringkali kesulitan
menangkap kelompok OPM yang beraksi di Kabupaten Puncak Jaya, Papua. Akibat
kondisi daerah memiliki hutan yang luas dan lebat kerap dimanfaatkan oleh OPM
untuk melakukan aksi penyerangan secara mendadak dan kemudian lari masuk
kedalam kerimbunan hutan setempat. Beberapa kali upaya penangkapan dilakukan
tetapi aparat selalu kehilangan jejak mereka.
Terus berulangnya aktivitas teror yang
dialakukan oleh OPM, sedikit banyaknya akan dapat menghambat peningkatan perekonomian dan pendidikan masyarakat dan daerah di Papua pada umumnya. Pendidikan
di Papua harus diakui masih terbelakang dibanding dengan daerah lain. Maka pendidikan
di Papua harus dibangun dengan mengacu pada pendekatan yang berbasis Papua itu
sendiri agar mudah dipahami.
Contoh misalnya kedekatan
dengan obyek harus menjadi model pengajaran. Pertama, dalam bentuk perhitungan
yang menggunakan satuan meter, centimeter, kilo meter dan seterusnya. Siswa di
Papua akan lebih mudah mengerti jika menggunakan satuan langkah kaki. Kedua,
dalam perhitungan matematika, (+, – , x) harus menggunakan media pendukung seperti (anak panah, ubi, babi , batu dan
sebagainya).
Ketiga, siswa diajak mencari benda apa saja di sekitar lingkungan yang bisa
membantu, masuk ke salah satu pemahaman materi pelajaran, seperti mencari
jenis-jenis akar, buah, batu dan sebagainya. Keempat, merumuskan/mendefinisikan
sendiri apa yang dilihat siswa, guru hanya meluruskan dan mengarahkan ke
tujuan. Menurut hemat penulis dengan cara sperti itu pendidikan di Papua akan dapat diterima
karena relevan dengan kondisi daerahnya yang mudah dipahami.
Bagaimanapun pendidikan dan perekominan
di daerah tersebut akan dapat meningkat dan masyarakatnya sejahtera jika kondisi
daerah itu betul-betul kondusif. Jika separatis OPM tetap melakukan
pembangkangan agar Papua lepas dari NKRI maka secara pasti akan dapat
mempengaruhi aktivitas secara keseluruhan.
Oleh karena itu kita berharap kepada
aparat TNI/Polri di Papua segera mengambil langkah tepat untuk meminimalkan
aktivitas OPM. Pemerintah harus terus mendorong tentara dan polisi yang
bertugas disana agar tidak boleh takut dan lengah untuk
terus memburuh dan menangkap separatis agar mempersempit ruang gerak para
separatis OPM yang meresahkan itu.
Rabu, 03 Oktober 2012
JANGAN BIARKAN OPM RUSAK BUMI PAPUA
Tatkala bangsa kita giat-giatnya
mengagendakan pemberantasan korupsi agar tidak menjadi budaya yang merusak
tatanan kehidupan bangsa, nun jauh diujung timur sana di Papua, masih saja ada
gejolak internal yang dijumpai yaitu belum tuntasnya masalah separatisme yang
butuh perhatian kita semua. Apa yang dialami saudara kita di Papua menjadi
tanggungjawab kita semua dalam penyelesaiannya dan ini butuh partisipasi
seluruh lapisan masyarakat. Mari kita katakan tidak kepada separatisme dan
jangan kita biarkan bumi Papua rusak dari ulah orang-orang yang tidak
menginginkan kedamaian dan ketenteraman di Papua.
Sepak terjang gerakan separatis Papua (OPM)
sepertinya tidak pernah berhenti meneror dan menciptakan ketakutan kepada warga
masyarakat. Perampasan, perampokan, bahkan ancaman senantiasa dilakukan OPM
dalam aksinya. Yang patut disayangkan lagi adalah sengaja menciptakan suatu
kondisi agar aktivitas masyarakat menjadi terganggu. Inilah yang mereka
inginkan dan ini menurut saya terus akan menjadi ancaman yang serius jika tidak
dituntaskan sampai ke embrio-embrio terkecilnya.
Slogan mereka yang selalu dihembuskan ingin
memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia hanya angan-angan
belaka dan itu tidak pernah akan terwujud. Propaganda-propaganda yang
menyesatkan dari OPM jangan menggiring kita kepada suatu opini simpatik, tetapi
apa yang dilakukan OPM merupakan suatu pembodohan terhadap diri mereka sendiri,
karena perkerjaan atau tindakan yang dilakukannya agar memisahkan diri dari
Indonesia tidak akan pernah berhasil.
Menurut pengamatan saya, sebagai warga
negara yang bertanggungjawab, keutuhan dan tetap berdiri kokohnya bangsa ini
ada dipundak kita semua. Perjuangan para pejuang bangsa dalam mengusir penjajah,
patut kita jadikan teladan dalam menumpas para pemberontak bersenjata OPM. Jika
kita sepakat untuk menolak keberadaan para separatis, yakinilah bahwa tidak
akan ada tempat persembunyian yang tepat bagi OPM.
Kita semua cinta Papua dan menginginkan agar
tercipta rasa aman di bumi paling timur Indonesia, untuk itu mari kita
pertahankan kedaulatan Indonesia dari segala bentuk ancaman, gangguan dan
intimidasi yang berusaha merongrong keutuhan negara kita.
PAPUA BAGIAN NKRI YANG TAK TERPISAHKAN
Separatisme adalah suatu gerakan untuk
mendapatkan kedaulatan dan memisahkan suatu wilayah
atau kelompok manusia (biasanya kelompok dengan kesadaran nasional
yang tajam) dari
satu dengan lainnya (atau
suatu Negara lain). Gerakan separatis bisa berupa gerakan damai atau dilakukan dengan gerakan
bersenjata dan tindakan teror yang bertujuan untuk menciptakan suatu kondisi
tidak aman terhadap suatu daerah atau negara tertentu.
Banyak negara di dunia
ini yang masih mempunyai gerakan separatis. Bukan hanya di Asia namun juga di Eropa dan
Amerika selatan, seperti di Philipina, Irlandia Utara, bahkan negara kita sendiri, Indonesia. Gerakan
separatis jarang sekali dilakukan dengan secara damai, kebanyakan dari kegiatan
para separatis dilakukan dengan cara-cara kekerasan bersenjata dan menebarkan
teror kepada masyarakat dan berusaha untuk menghasut agar masyarakat mengikuti
keinginan politik mereka.
Demikian juga yang saat ini
terjadi di Tanah Papua. Gerakan separatis di Papua
menamakan diri Organisasi Papua Merdeka (OPM). Dari penyebutan namanya
saja sudah jelas tujuan mereka yakni akan melepaskan diri dari Negara Kesatuan Republik
Indonesia dan memerdekakan Papua sebagai suatu negara
yang berdiri sendiri.
Menilik sejarah
bersatunya Papua kedalam NKRI, kita semua tahu bahwa
masuknya Papua menjadi bagian NKRI atas dasar hasil Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) dan sah sesuai “New York Agreement” 1962. Pepera ini
pun sudah disahkan oleh Sidang Majelis Umum PBB melalui Resolusi 2505 pada
tanggal 19 November 1969. Ini berarti kembalinya Papua ke pangkuan Indonesia
sudah didukung penuh oleh masyarakat Internasional dan PBB.
Dari dasar tersebut sudah
merupakan bukti otentik yang tidak terbantahkan bahwa Papua merupakan bagian
dari NKRI. Namun dari kalangan segelintir orang Papua yang ingin memisahkan
diri dan merdeka sebagai negara sendiri, bukti-bukti tersebut dianggap tidak
sah, mereka berpendapat bahwa hasil
Pepera tahun 1962 tidak mencerminkan kehendak rakyat Papua secara keseluruhan
dan tidak relevan lagi dengan kondisi Papua saat ini.
Apapun yang mereka
katakan, hasil Pepera yang diperkuat dengan hasil sidang Majelis Umum
PBB melalui resolusi 2505 tanggal 19 Nopember 1969 sudah lebih dari cukup untuk
menunjukkan kepada masyarakat internasional
dan rakyat Papua sendiri bahwa bersatunya Papua ke dalam NKRI sah secara de facto dan de jure.
Upaya sebagian kelompok
masyarakat di Papua dan LSM yang bersuara lantang memperjuangkan kondisi Papua
sangat disayangkan. LSM tersebut justru
sengaja mengangkat dan
mengeksploitasi isu pelanggaran
HAM, guna mendiskreditkan
aparat keamanan. Karena LSM ini sama-sekali tidak menyadari adanya
bahaya/ancaman separatisme di Papua. Bahkan mereka
kemungkinan memiliki kerjasama mutualisme untuk memperoleh keuntungan demi
kepentingannya.
Serangkaian insiden kekerasan yang masih
sering terjadi sungguh mengkhawatirkan kita semua, sehingga insiden sekecil
apapun yang bernuansa separatisme tidak boleh dipandang sebagai masalah sepele.
Kita harus ingat bahwa ideologi separatisme Papua adalah berjuang untuk
memisahkan diri dari NKRI. Mereka tidak hanya berjuang pada tataran politik dan
diplomasi saja, tetapi juga melaksanakan aksi kekerasan bersenjata dengan
sasaran masyarakat, aparat keamanan dan obyek sipil strategis.
Kondisi ini tentunya menjadi tanggung jawab
bagi aparat keamanan, baik TNI maupun Polri untuk mampu menangani secara professional,
sekaligus persoalan berat yang harus dihadapi mereka sendiri. Karena aparat
keamanan, disamping harus tetap waspada untuk
menjaga dirinya dari kemungkinan serangan kelompok separatis, juga harus
mampu melindungi masyarakat sipil. Pengalaman menunjukkan, aparat keamanan juga
telah menjadi korban keganasan dari separatis Papua, terutama aparat keamanan
yang bertugas di pos-pos terpencil dan perbatasan.
Oleh sebab itu, keberadaan pasukan TNI
dan Polri di Papua tetap masih dan sangat dibutuhkan sebagai penjaga
keamanan Papua, yang tentu saja dengan tetap menjujung
tinggi HAM dan bertindak profesional.
MASALAH PAPUA HARUS DISELESAIKAN BERSAMA
Serangkaian
teror penembakan dan penyerangan terhadap warga sipil dan aparat kemanan di
Papua hingga saat ini masih terus berlangsung, peristiwa terakhir yang terjadi
adalah penyerangan dan penembakan terhadap iring-iringan kendaraan pengangkut
sembako yang melukai pengemudi truk pengangkut sembako tersebut.
Adanya
rencana kunjungan menteri luar negeri Amerika Serikat Hillary Clinton ke
Indonesia banyak menuai protes dari berbagai kalangan aktivis mahasiswa maupun
elemen masyarakat lainnya. Hal ini sangat dimaklumi karena berkaitaan dengan
berbagai kepentingan Amerika di Indonesia yang dianggap merugikan Indonesia.
Mereka menganggap kondisi bangsa Indonesia saat ini khususnya Papua, tidak
terlepas dari peran Amerika yang bermain didalamnya. Permasalahan Papua yang
semakin berlarut-larut seperti sekarang ini tidak bisa dibiarkan begitu
saja.
Perlu
keinginan kuat dari pemerintah, rakyat Papua dan berbagai komponen masyarakat
untuk bersama-sama menyelesaikan permasalahan Papua secara tuntas dan
bermartabat. Upaya pemerintah dengan memberikan Otonomi Khusus kepada Papua
merupakan salah satu alternatif untuk mensejahterakan rakyat Papua dari hasil
sumber daya alam yang mereka miliki maupun dari segi pengaturan rodaa
pemerintahan.
Permasalahannya
sekarang, banyak kepentingan yang bermain di Papua termasuk kepentingan asing
yang ingin berusaha menguasai sumber daya alam yang melimpah di Papua, sehingga
Papua terus meradang. Hal ini tidak mungkin bisa kita pungkiri, karena hampir
seluruh wilayah di Papua memiliki kandungan sumber daya alam termasuk sumber
daya mineral yang sangat melimpah,
bahkan bisa dikatakan terbesar di dunia.
Rencana
kedatangan Menteri luar negeri Amerika Serikat ke Indonesia sebanarnya bisa
dijadikan momentum penting dalam menyelesaikan permasalahan Papua, sebab walau
bagaimanapun peran Amerika serikat tidak bisa dikesampingkan, terlebih lagi
Amerika memiliki kepentingan sangat besar di Papua berupa PT. Freeport di sana.
Pemerintah
Indonesia setidaknya bisa sedikit menekan Amerika berkaitan dengan
kepentingannya di Papua tersebut, dengan menyatakan bahwa Papua merupakan
bagian yang tak terpisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal ini
akan sangat berdampak secara psikologis maupun politis terhadap Integitas NKRI
di mata dunia. Hal tersebut sangatlah penting sebab Amerika memainkan peranan
sangat vital di dunia.
Ruben Marey dari Kementerian Koordinator Politik,
Hukum dan Keamanan mengatakan persoalan yang ada saat ini adalah kepemimpinan
di daerah, dimana ada ketidakmampuan dalam pengelolaan dan manajemen pemerintah
daerah. Kalau saja, Gubernur atau Bupati yang ada di Papua bisa menyelesaikan
persoalan Papua, maka konflik dan kekerasan Papua bisa diredam.
Pernyataan tersebut mungkin ada benarnya, karena
saat ini kepala daerah di Papua cenderung apatis dengan kondisi yang ada di
Papua. Mereka lebih mengutamakan
kepentingan pribadi ketimbang memikirkan tentang kesejahteraan maupun nasionalisme
rakyat Papua.
Namun dari semua hal
tersebut, keinginan yang kuat dari pemerintah,
rakyat Papua dan seluruh elemen masyarakat termasuk LSM, merupakan hal
penting dalam menyelesaikan permasalahan Papua. Menyadarkan pihak-pihak yang
ingin melepaskan Papua dari NKRI lebih penting dari sekedar retorika tentang
pemerataan kesejahteraan, karena pada dasarnya pemerintah sudah banyak berbuat
untuk Papua.
DIALOG, SEBAGAI SOLUSI PENYELESAIAN MASALAH PAPUA
Untuk
menyelesaikan berbagai permasalahan di Papua, selain meneruskan program-program
pembangunan yang sudah/sedang berjalan, sebuah rekomendasi kebijakan yang
paling penting adalah memungkinkan terjadinya dialog antara pihak-pihak yang
berkonflik, baik di Papua maupun dengan Jakarta.
Rentang waktu
persoalan Papua yang sudah sangat lama, namun sepertinya tidak pernah
diselesaikan secara tuntas. Selain itu, hampir semua kebijakan dan program di
Papua juga terfokus pada penyelesaian persoalan keterbatasan fisik dan
infrastruktur.
Padahal,
pendekatan ekonomi dan infrastruktur pun tidak sepenuhnya mampu mengatasi
persoalan keterbatasan dan ketertinggalan daerah Papua, sekalipun menggunakan
indikator dan parameter yang terukur. Contoh yang paling nyata adalah masih
buruknya fasilitas pelayanan publik di Papua, terutama pendidikan dan
kesehatan. Karena masalah di Papua tidak bisa dianalisis secara terpisah,
solusinya pun bersifat simultan dan terpadu, serta tidak boleh lagi
mengakibatkan munculnya persoalan baru apalagi bersifat represif.
Hal lain,
pembukaan lahan di atas tanah adat penduduk asli Papua harus dilakukan dengan
komunikasi yang terbuka dan persuasif. Jangan sampai hanya berpihak pada kepentingan
investor, dimana pemerintah daerah di Papua cenderung membela kepentingan
investor, serta dengan sengaja melupakan prinsip kepemilikan hak ulayat orang
asli Papua.
Terkait itu
semua, terasa perlu dan pentingnya diadakan DIALOG. Meski memang dialog bukan
solusi, namun dialog bisa menjadi media atau forum yang disediakan untuk
memulai kebuntuan komunikasi politik
antara Jakarta dan Papua. Komunikasi yang lebih intens dan reguler menjadi
penting dalam rangka mengatasi ketegangan, saling curiga, dan saling tidak
percaya antara Jakarta dan Papua selama ini. Dialog damai bukan sesuatu yang
instan, melainkan proses panjang yang harus dipersiapkan secara matang.
Walaupun
terkesan rumit, dialog sangat mungkin dilakukan dengan terlebih dulu
menciptakan kondisi-kondisi yang membuat para pihak semakin yakin untuk
berdialog, dengan mengedepankan hal-hal seperti; berlandaskan pada asas-asas kesetaraan,
keterbukaan, dan saling menghargai. Kemudian harus mampu menyelesaikan berbagai
akar persoalan kekerasan di Papua, diantaranya mengenai penanganan terhadap
tahanan politik dan narapidana politik (tapol/napol), penataan aparat keamanan
dan intelijen yang berada di Papua, serta penyelesaian pelanggaran HAM melalui
pengadilan HAM yang adil.
Dialog
nasional tersebut harus dipersiapkan oleh semua pihak berkaitan dengan format
dialog, juga harus berdasarkan keputusan politik Pemerintah Indonesia. Tanpa
keputusan politik yang resmi, hampir pasti tidak akan mungkin ada dialog damai.
Dari seluruh
proses damai dan terutama untuk menuju dialog damai antara Jakarta dan Papua,
hal terpenting adalah semua pihak harus memiliki pemahaman yang sama mengenai
makna dan urgensi dialog.
Dialog bukan
merdeka, dialog juga bukan NKRI, otsus, atau percepatan pembangunan Papua.
Esensi dialog adalah sebuah media, alat, cara berkomunikasi bagi para pihak
untuk mulai membuka diri, memandang pihak lain secara setara dan bermartabat,
serta keinginan baik untuk mau duduk bersama membicarakan isu-isu yang selama
ini menjadi sumber perpecahan, ketegangan, konflik, dan asal-muasal kekerasan
di Papua.
Kamis, 13 September 2012
KSAD Minta Dikoreksi Pasukan
Baturaja, Mungkin hal ini
tidak pernah terjadi saat pemerintah ini dikuasai rejim militer. Di era
reformasi TNI sekarang iniasi ini, seorang petinggi militer pun cukup wajar jika
minta usulan maupun koreksi dari anggota pasukan.
Seperti diinstruksikan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo saat pengarahan di hadapan tiga ribu lebih pasukan peserta Latihan Antar Kecabangan Tingkat Brigade Tahun 2012 yang dipusatkan di Pusat Latihan Tempur Objek Militer Baturaja (Omiba), Senin (3/8).
Dalam kesempatan itu KSAD mengaku sangat bersyukur karena sudah disetujui Kemhan (Kementerian Pertahanan), anggaran untuk latihan naik 157 persen dari tahun-tahun sebelumnya. Bahkan dalam waktu dekat tepatnya tanggal 5 Oktober tahun 2012 bertepatan dengan HUT TNI dijadwalkan sebagian alutsista (alat utama persenjataan) yang dibeli dari luar negeri akan tiba di Indonesia.
Seperti diinstruksikan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo saat pengarahan di hadapan tiga ribu lebih pasukan peserta Latihan Antar Kecabangan Tingkat Brigade Tahun 2012 yang dipusatkan di Pusat Latihan Tempur Objek Militer Baturaja (Omiba), Senin (3/8).
Dalam kesempatan itu KSAD mengaku sangat bersyukur karena sudah disetujui Kemhan (Kementerian Pertahanan), anggaran untuk latihan naik 157 persen dari tahun-tahun sebelumnya. Bahkan dalam waktu dekat tepatnya tanggal 5 Oktober tahun 2012 bertepatan dengan HUT TNI dijadwalkan sebagian alutsista (alat utama persenjataan) yang dibeli dari luar negeri akan tiba di Indonesia.
Peralatan tempur canggih yang akan dibeli seperti 2 batalyon rudal MLS, 2 batalyon roket, 2 batalyon meriam, semua itu untuk meningkatkan kualitas dan profesionalisme latihan tempur TNI AD.
Saat ditanya nilai anggaran
yang mengalami kenaikan, Pramono Edhi Wibowo enggan merinci. “Pokoknya segitu,”
kata ipar Presiden SBY ini seraya tersenyum.
Dikesempatan itu KSAD menginstruksikan kepada pasukan agar menulis masukan dan kritik membangun serta temuan-temuan selama latihan. “Jangan takut sampaikan untuk koreksi kedalam, asalkan jangan menjelek-jelekan intern sendiri,” ujarnya sambil menambahkan masukan jangan menulis nama supaya lebih jujur.
“Silakan berikan kritik, jangan ragu-ragu. Berikan keritik kalian ke dalam, jangan memberikan kritik keluar. Karena jika ada anggota TNI AD yang memberikan kritik keluar, maka saya tidak akan memberi toleransi. Akan saya keluarkan dari satuan ini. Jadi berikan kritik kalian untuk kesatuan ini dari dalam dan bukan dari luar,” tegasnya.
Mengenai persenjataan TNI AD yang sudah tua, pramono mengatakan pihaknya akan segera melakukan perbaikan. Bahkan pada Oktober mendatang, TNI AD akan mendatangkan sejumlah roket baru yang berasal dari Rusia.
Dikesempatan itu KSAD menginstruksikan kepada pasukan agar menulis masukan dan kritik membangun serta temuan-temuan selama latihan. “Jangan takut sampaikan untuk koreksi kedalam, asalkan jangan menjelek-jelekan intern sendiri,” ujarnya sambil menambahkan masukan jangan menulis nama supaya lebih jujur.
“Silakan berikan kritik, jangan ragu-ragu. Berikan keritik kalian ke dalam, jangan memberikan kritik keluar. Karena jika ada anggota TNI AD yang memberikan kritik keluar, maka saya tidak akan memberi toleransi. Akan saya keluarkan dari satuan ini. Jadi berikan kritik kalian untuk kesatuan ini dari dalam dan bukan dari luar,” tegasnya.
Mengenai persenjataan TNI AD yang sudah tua, pramono mengatakan pihaknya akan segera melakukan perbaikan. Bahkan pada Oktober mendatang, TNI AD akan mendatangkan sejumlah roket baru yang berasal dari Rusia.
“Kita akan mendatangkan
persenjataan terbaru dengan jangkauan minimal 95 Km yang berjenis roket 95GS,”
jelasnya seraya mengatakan, TNI AD akan membentuk Batalyon Armed
Roket.

Selain roket, TNI AD juga akan mendatangkan 10 pesawat Hercules, dan Main Batlle Tank (MBT) Leopard.
Ketika ditanya tujuan dari latihan besar-besaran tersebut merupakan pesan kepada negara tetangga akan adanya kekuatan baru TNI. “Kita tidak pernah menantang kekuatan negara lain. Namun pembangunan kekuatan TNI merupakan penyesuaian kekuatan kita dengan negara tetangga,” jelasnya

Selain roket, TNI AD juga akan mendatangkan 10 pesawat Hercules, dan Main Batlle Tank (MBT) Leopard.
Ketika ditanya tujuan dari latihan besar-besaran tersebut merupakan pesan kepada negara tetangga akan adanya kekuatan baru TNI. “Kita tidak pernah menantang kekuatan negara lain. Namun pembangunan kekuatan TNI merupakan penyesuaian kekuatan kita dengan negara tetangga,” jelasnya
Pramono Edhi Wibowo mengaku bangga dengan latihan yang dilakukan prajurit TNI AD. Menurutnya tidak ada satupun prajurit yang luka ataupun sakit dalam latihan itu. Demikian juga dengan persenjataan yang dioperasikan. Tidak ada satupun senjata yang mengalami kemacetan.
“Latihan kali ini cukup sukses dilaksanakan. Setelah tahun 1996, baru kali ini kita melakukan latihan besar-besaran kembali. Dan ini adalah awal bagi TNI AD dalam melakukan perubahan yang lebih baik,” katanya dihadapan ribuan anggota TNI AD. Menurut Pramono, evaluasi latihan akan dilakukan secara menyeluruh dan seluruh personel serta pasukan berhak untuk memberikan kritik dalam latihan tersebut.
Sedangkan Komandan BTP (Batalayon Tim Pertempuran) Letkol Inf Suparlan Purwo Utomo dalam dihadapan pers menjelaskan skenario latihan tempur diawali serangan terhadap musuh di Baturaja setelah dua hari lalu pencarian informasi satuan intel dan Ter Kodam II/Sriwijaya.
Dalam latihan besar ini mengerahkan 3.017 personil TNI AD meluncurkan 150 hingga 200 roket dan meriam, sedangkan alat berat yang dikerahkan Tank Scorpion 16 unit, Tank Anoa 16 unit, dan lainnya. “Alhamdulillah semua peralatan tempur berfungsi 100 persen dan tidak ada insiden,” jelas Suparlan.
Sementara itu Seluruh Pangdam Se-Indonesia berkumpul di Pusat Latihan Tempur Objek Militer Baturaja dalam rangka Latihan Antar Kecabangan Tingkat Brigade Tahun 2012 Dalam Latihan Antar Kecabangan Tingkat Brigade yang dliaksanakan Brigif 9/2 Kostrad masing-masing Yonif Linud 501, Yonif 514, Yonif 509, dengan kekuatan 1 Rayon Armed,satu kompi kaveleri, satu rayor Arhanud, satu skuwadron 12 Penerbad (penerbangan Angkatan Darat) satu kompi Zipur dan satun lain Seperti Kopasus, Ki Mekanis, Bekang, Kesehatan, Pernika (Perhubungan).
Latihan disaksikan langsung Kasad Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo serta DanKodiklat Letjend TNI Gatot Nurmantio.
Disisi lain dalam latihan tempur ini juga didukung oleh teritorial, tiga Kabupaten yakni OKU, OKU Timur dan OKU Selatan yang diserang musuh. Akhirnya pasukan TNI berhasil merebut kembali. (Satgaspen)
Latancab 2012: Pasukan Brigade Tim Pertempuran (BTP) 9/Kostrad Hancurkan Musuh

Dengan semangat pantang menyerah, pasukan Brigade Tim Pertempuran (BTP) 9/Kostrad yang terlibat dalam Latihan antar kecabangan tingkat Brigade tahun 2012 berhasil melumpuhkan beberapa sasaran. Dalam latihan tersebut para prajurit TNI Angkatan Darat dengan berbagai kecabangan bersinergi dalam satu misi berhasil menghancurkan musuh yang ingin membentuk negara baru (Neba) di Wilayah Sumatera Selatan. Latihan tersebut puncaknya ketika materi serangan dengan menggempur musuh pada Senin (03/09).
Musuh yang berkekuatan satu batalyon berhasil di bumi hanguskan oleh Pasukan BTP yang teridiri dari Yonif Linud 501, Yonif 509, Yonif 514 Raider, 1 Kompi Mekanis Yonif 201, 1 Ki Kav Tank 8, 2 Rai Armed (1 Rai Meriam 76 tarik & 1 Rai Armed Meriam 105 tarik), 1 Rai Arhanudri RBS 70, 1 Kompi Zipur 10, 1 Squadron Penerbad. Selain itu juga didukung oleh satuan Banmin yang terdiri dari Perhubungan, Peralatan, Pembekalan dan Angkutan, Polisi Militer, Kesehatan, Satgas Penerangan dan Satgas lainnya.
Dalam latihan antar kecabangan tingkat Brigade hadir para Pangkotama TNI AD dan disaksikan langsung oleh KASAD Jenderal TNI Pramono Edhie Wiboyo yang terus memantau latihan yang dimulai tepat pada pukul 08.00 dan berakhir hingga pukul 12.30 wib. Latihan yang telah diperagakan oleh para prajurit TNI AD dapat disaksikan langsung di titik tinjau tamu Puslatpur Baturaja yang luasnya mencapai sekitar kurang lebih 42.000 H.
Setelah sasaran musuh berhasil direbut di tempat konsolidasi, Pramono Edhie
Wibowo melakukan pengarahan kepada sejumlah prajurit yang terlibat dalam latihan
tersebut. Dalam latihan Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Pramono Edi
Wibowo memberi apresiasi yang tinggi kepada para pelaku latihan antar kecabangan
tersebut karena melakukan dengan penuh semangat dan dalam keadaan
aman.

Lebih lanjut dikatakan bahwa latihan ancab tingkat brigade merupakan latihan terbesar yang pernah dilakukan oleh TNI AD pada tingkat Brigade pada kurun beberapa tahun terakhir ini. Sebab latihan tingkat brigade hanya pernah dilakukan pada tahun 1996. Setelah itu tidak pernah dilakukan lagi akibat berbagai kendala. KASAD juga dalam arahannya memberikan penekanan bahwa keberhasilan dalam latihan ini bukanlah merupakan akhir segalanya. Sebab latihan ini dianggap berhasil apabila selamat hingga sampai ditempat tujuan dengan selamat sampai hingga ketemu keluaraga kembali.
Kedepan latihan diharapkan agar lebih disempurnakan lagi dengan memberikan masukan yang bersifat konsruktif dalam mekanisme latihan baik secara taktis maupun teknis sehingga kedepannya akan lebih baik dan lebih profesional lagi dalam menjalankan latihan khususnya ditubuh TNI Angkatan Darat.(Satgaspen)
Lebih lanjut dikatakan bahwa latihan ancab tingkat brigade merupakan latihan terbesar yang pernah dilakukan oleh TNI AD pada tingkat Brigade pada kurun beberapa tahun terakhir ini. Sebab latihan tingkat brigade hanya pernah dilakukan pada tahun 1996. Setelah itu tidak pernah dilakukan lagi akibat berbagai kendala. KASAD juga dalam arahannya memberikan penekanan bahwa keberhasilan dalam latihan ini bukanlah merupakan akhir segalanya. Sebab latihan ini dianggap berhasil apabila selamat hingga sampai ditempat tujuan dengan selamat sampai hingga ketemu keluaraga kembali.
Kedepan latihan diharapkan agar lebih disempurnakan lagi dengan memberikan masukan yang bersifat konsruktif dalam mekanisme latihan baik secara taktis maupun teknis sehingga kedepannya akan lebih baik dan lebih profesional lagi dalam menjalankan latihan khususnya ditubuh TNI Angkatan Darat.(Satgaspen)

Pasukan Brigade Tim Pertempuran (BTP) bergerak taktis menuju ke Daerah Persiapan Aju (DP Aju) dalam rangka melaksanakan operasi serangan untuk menghancurkan musuh yang sedang bertahan di wilayah Martapura Sumatera Selatan, Minggu (02/09).
Pergeseran pasukan diawali dengan pemberian Perintah Operasi (PO) dari para Komandan Batalyon (Danyon) kepada para Komandan Kompi (Danki) di titik tinjau Batalyon masing-masing yang tergabung dalam Pasukan BTP. Batalyon tersebut yaitu Yonif 509, Yonif Linud 501 dan Yonif 514 Raider.
Setelah PO diberikan kemudian BTP melakukan pergerakan taktis menuju DP Aju. Disamping itu BTP juga mendapatkan perkuatan pasukan dari Yonif Mekanis 201/JY dan dari Satuan Bantuan Tempur (Satbanpur) dari satuan Kavaleri, Armed, Arhanud, Kompi Pernika dan Zeni Tempur (Zipur) guna mendukung tugas operasi serangan untuk menghancurkan musuh.
Pasukan Infanteri bergerak di depan menuju DP Aju diikuti oleh Satbanpur yaitu kendaraan tempur (ranpur) Tank, ranpur panser anoa, ranpur pernika. Sedangkan pasukan armad bergerak menuju ke daerah stelling guna memberikan bantuan tembakan kepada satuan manuper.
Pada saat pemberian PO tingkat Danyon di tinjau langsung oleh Kepala Staf Kostrad Mayjen TNI Harry Purdianto, Pangkogasgabrat Brigjen TNI M. Setyo Sularso dan Komandan Latihan Antar Kecabangan TNI Angkatan Darat Brigjen TNI Pribadi Agus Purwanto. Hal ini sebagai bentuk perhatian dan keseriusan komando atas kepada peserta latihan antar kecabangan (Latancab) tingkat Brigade supaya berlatih dengan sungguh-sungguh, sehingga tujuan latihan dapat tercapai guna menjalankan tugas pokok TNI Angkatan Darat demi menjaga keutuhan dan Kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.(Satgaspen)
Latancab 2012: Realistis, Keras, Menantang...
Minggu, 02 September 2012

Prajurit TNI Angkatan Darat yang tergabung dalam
Latihan Antar Kecabangan (Latancab) tingkat Brigade melakukan penyebrangan basah
menyebrangi sungai Komering Oku Timur Sumatera Selatan pada pukul 17.00 Wib
dalam rangka gerak maju pasukan Brigade Tim Pertempuran (BTP) menuju Daerah
Persiapan (DP), Jum’at (31/08).
Dalam sekenario latihan jembatan kota baru Martapura dan Wilayah Desa Pracak Dusun 3 telah dikuasai oleh musuh, sehingga pasukan BTP yang terdiri dari Batalyon Infanteri 514 Raider/Kostrad, Yonif 509/ Kostrad dan Yonif Linud 501 Kostrad melakukan penyebrangan basah guna menguasai daerah tersebut dari pihak musuh.
Pasukan Yonif 514/R Kostrad bergerak maju dengan menyebrangi sungai Komering terlebih dahulu, sedangkan pasukan dari Yonif 509 Kostrad dan Yonif Linud 501 melakukan pengamanan selama penyebrangan itu dilakukan.
Setelah Desa Pracak Dusun 3 dapat direbut maka pasukan Yonif 514 Raider melakukan penyisiran sepanjang tepi sungai dengan pergerakan taktis untuk merebut Jembatan Kota Baru Martapura yang dikuasai musuh.
Ketika jembatan tersebut dinyatakan aman dari gangguan musuh, maka kendaran tempur (ranpur) dari satuan kavaleri yaitu kendaraan tank dan ranpur anoa dari pasukan Yonif Mekanis 201/JY dapat melewatinya untuk menuju daerah persiapan.
Pada kegiatan penyebrangan basah tersebut Komandan Doktrin Pendidikan dan Latihan (Dankodiklat) TNI Angkatan Darat Letnan Jenderal TNI Gatot Nurmantyo selaku penanggung jawab umum latihan turun langsung meninjau penyebrangan basah yang dilakukan oleh pasukan BTP. Hal ini dilakukan sebagai bentuk perhatian dan keseriusan dalam melaksanakan Latancab tingkat Brigade yang baru pertama kali di selenggarakan guna meningkatkan profesionalisme prajurit TNI AD dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.(Satgaspen)
Dalam sekenario latihan jembatan kota baru Martapura dan Wilayah Desa Pracak Dusun 3 telah dikuasai oleh musuh, sehingga pasukan BTP yang terdiri dari Batalyon Infanteri 514 Raider/Kostrad, Yonif 509/ Kostrad dan Yonif Linud 501 Kostrad melakukan penyebrangan basah guna menguasai daerah tersebut dari pihak musuh.
Pasukan Yonif 514/R Kostrad bergerak maju dengan menyebrangi sungai Komering terlebih dahulu, sedangkan pasukan dari Yonif 509 Kostrad dan Yonif Linud 501 melakukan pengamanan selama penyebrangan itu dilakukan.
Setelah Desa Pracak Dusun 3 dapat direbut maka pasukan Yonif 514 Raider melakukan penyisiran sepanjang tepi sungai dengan pergerakan taktis untuk merebut Jembatan Kota Baru Martapura yang dikuasai musuh.
Ketika jembatan tersebut dinyatakan aman dari gangguan musuh, maka kendaran tempur (ranpur) dari satuan kavaleri yaitu kendaraan tank dan ranpur anoa dari pasukan Yonif Mekanis 201/JY dapat melewatinya untuk menuju daerah persiapan.
Pada kegiatan penyebrangan basah tersebut Komandan Doktrin Pendidikan dan Latihan (Dankodiklat) TNI Angkatan Darat Letnan Jenderal TNI Gatot Nurmantyo selaku penanggung jawab umum latihan turun langsung meninjau penyebrangan basah yang dilakukan oleh pasukan BTP. Hal ini dilakukan sebagai bentuk perhatian dan keseriusan dalam melaksanakan Latancab tingkat Brigade yang baru pertama kali di selenggarakan guna meningkatkan profesionalisme prajurit TNI AD dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.(Satgaspen)
Latancab 2012: Penggabungan Linud 501 Dengan BTP 9/2 Kostrad
Sabtu, 01 September 2012
Batalyon Lintas Udara (Linud) 501 melakukan penggabungan dengan Brigade Tim
Pertempuran (BTP) 9/2 Kostrad di Way Tuba Lampung Utara pada pukul 10.00 Wib
setelah pasukan Linud 501 menguasai Lanudad Gatot Subroto yang sebelumnya
dikuasai oleh musuh, Kamis (30/08).
Proses penggabungan diawali dengan penjemputan yang dilakukan oleh satu pleton dari Batalyon Linud 501 di koordinat yang telah ditentukan sebelumnya dengan Pleton Pelopor dari BTP 9/2 Kostrad.
Selama perjalanan pleton penjemput tersebut melakukan pergerakan taktis untuk mengantisipasi apabila ditengah perjalanan terjadi penghadangan dari pihak musuh.
Sesampainya di koordinat yang telah ditentukan, pleton penjumput melakukan kontak melalui pesawat radio untuk menanyakan posisi dan tanda taktis pleton yang akan dijemput. Setelah tanda taktis dari peleton yang akan dijemput terlihat, kemudian pleton penjemput memberi isyarat berupa sandi untuk memastikan bahwa pleton yang dijemput tersebut adalah pasukan kawan.
Setelah terjadi kontak fisik antara kedua pleton tersebut, kemudian komandan pleton (Danton) Pelopor melaporkan kepada komandan Batalyon yang berada di Komando Taktik (Kotis) melalui pesawat radio bahwa mereka telah bertemu dan bergabung dengan pleton penjemput dari Batalyon Linud 501. Selanjutnya terjadilah penggabungan pasukan dan komando diambil alih oleh komandan BTP.
Komandan BTP memerintahkan pasukannya untuk bergerak maju mengikuti pleton penjemput melalui rute yang sudah di bersihkan oleh pasukan penjemput sebelumnya menuju Lanudad Gatot Subroto, dimana Batalyon 501 sudah menanti di Lanudad yang selanjutnya akan melakukan pergerakan bersama menuju sasaran dalam rangka Latihan Antar Kecabangan (Ancab) tingkat Brigade.(Satgaspen)
Proses penggabungan diawali dengan penjemputan yang dilakukan oleh satu pleton dari Batalyon Linud 501 di koordinat yang telah ditentukan sebelumnya dengan Pleton Pelopor dari BTP 9/2 Kostrad.
Selama perjalanan pleton penjemput tersebut melakukan pergerakan taktis untuk mengantisipasi apabila ditengah perjalanan terjadi penghadangan dari pihak musuh.
Sesampainya di koordinat yang telah ditentukan, pleton penjumput melakukan kontak melalui pesawat radio untuk menanyakan posisi dan tanda taktis pleton yang akan dijemput. Setelah tanda taktis dari peleton yang akan dijemput terlihat, kemudian pleton penjemput memberi isyarat berupa sandi untuk memastikan bahwa pleton yang dijemput tersebut adalah pasukan kawan.
Setelah terjadi kontak fisik antara kedua pleton tersebut, kemudian komandan pleton (Danton) Pelopor melaporkan kepada komandan Batalyon yang berada di Komando Taktik (Kotis) melalui pesawat radio bahwa mereka telah bertemu dan bergabung dengan pleton penjemput dari Batalyon Linud 501. Selanjutnya terjadilah penggabungan pasukan dan komando diambil alih oleh komandan BTP.
Komandan BTP memerintahkan pasukannya untuk bergerak maju mengikuti pleton penjemput melalui rute yang sudah di bersihkan oleh pasukan penjemput sebelumnya menuju Lanudad Gatot Subroto, dimana Batalyon 501 sudah menanti di Lanudad yang selanjutnya akan melakukan pergerakan bersama menuju sasaran dalam rangka Latihan Antar Kecabangan (Ancab) tingkat Brigade.(Satgaspen)
Latancab 2012: Yonif Linud 501/Kostrad Berhasil Rebut Sasaran

Kamis, 30 Agustus 2012
Danyonif Linud 501/Kostrad segera menyiapkan
pasukan dan melaporkan kesiapan tersebut kepada Pangkogasgab. Kronologis
tersebut diasumsikan sebagai peristiwa nyata yang dituangkan pada Latihan Antar
Kecabangan TNI AD tahun 2012, yang dilaksanakan sejak tanggal 24 Agustus sampai
dengan tanggal 7 September 2012. Langkah Lebih lanjut dalam skenario tersebut
adalah memberikan informasi akurat tentang daerah yang dikuasai musuh dengan
cara menyusupkan operasi Kelompok Depan Operasi Linud (KDOL) yang telah
diterjunkan 2 hari yg lalu (27/8) untuk menentukan panel buka dan panel tutup,
kedudukan Tim Pengendali Tempur, kedudukan Tim Keamanan, dan kedudukan Tim
Sandha dan Satgas Intel.
Setelah semua data berhasil dihimpun dan dinyatakan siap oleh tim KDOL, akhirnya diputuskan pada tanggal 29 Agustus 2012 tepat pada jam 06.00 Pasukan Linud (Lintas Udara) tempur diterjunkan di daerah yang telah dipersiapkan. Setelah pasukan mendarat secara taktis bergerak menuju sasaran dengan dipandu oleh tim KDOL yang telah paham dengan situasi medan.
Setibanya di sasaran pasukan Linud 501/Kostrad sebanyak 2 Kompi, yakni Kompi-A dan Kompi-B menyergap kekuatan insurjensi yang menguasai Bandara Gatot Subroto dan berhasil melumpuhkannya. Sedangkan Kompi-C berhasil menghancurkan satu peleton musuh yang menguasai Jembatan Sungai Komering, Kota Baru.
Sekitar pukul 13.30 wib kedua obyek yang dikuasai musuh tersebut berhasil dikuasai kembali dan pasukan insurjensi berhasil dilumpuhkan. (Satgaspen)
Latancab 2012: Gerak Maju Pasukan TNI AD Berhasil Masuk Daerah Musuh
Lampung Selasa (28/08)
Ribuan personel peserta Latihan Antar Kecabangan (Latancab) tingkat Brigade
tahun 2012 melakukan pemindahan pasukan untuk melaksanakan Operasi Penggabungan
di Lanudad Gatot Subroto Waituba, Waikanan, Lampung Utara, Selasa
(28/08).
Pemindahan Pasukan dibagi menjadi tiga kolone, yaitu kolone biru, kolone kuning dan kolone merah. Kolone merah dan kuning bergerak satu arah untuk menuju Tanjung Raya Giham, Waikanan Lampung Utara. Sedangkan kolone biru bergerak menggunakan kereta api juga dengan tujuan way Tuba.
Kolone biru dipimpin langsung oleh Dan BTP Letkol Inf Suparlan terdiri dari Yonif 514/R/Kostrad, Yonif 509/Kostrad, Kompi Pernika, Kompi Zeni Tempur dan Satgaspen yang bergerak dari Lapangan Saburai Bandar Lampung menuju stasiun KA. Tanjung Karang pukul 07.00 Wib dengan perjalanan kurang lebih empat jam.
Sedangkan kolone merah dan kuning dipimpin Wadan BTP Letkol Inf Erwan Subekti. Kolone merah terdiri dari Satuan Armed, Satuan Arhanud, Satuan Bantuan Administrasi (Satbanmin) sedangkan kolone kuning terdiri dari satu Kompi Mekanis dengan kendaraan Anoa, Satuan Kavaleri, Satuan Armed yang bergerak dari Yonif 143/TWEJ.
Kolone kuning pada pukul 07.00 Wib dan Kolone merah bergerak pada pukul 08.00 Wib dengan rute terpisah setelah melewati terminal Terbanggi, kolone merah melewati rute Jalur Barat Lintas Sumatra, kolone kuning melewati rute Ketapang-Balaraja. Kedua Kolone bertemu kembali di Simpang Negeri Baru Waikanan dan melanjutkan pergerakan menuju Waituba untuk bergabung dengan Kolone biru.
Selanjutnya pada hari Rabu (29/8) pagi sekitar pukul 06.15 Wib pasukan Yonif Linud 501 akan penerjunan taktis di Simpang Lengot Way Tuba. Sesudah penerjunan taktis tersebut akan melaksankan perebutan sasaran di dua tempat yaitu di Bandara Lanudad Gatot Subroto Way Tuba dan Jembatan Kota Baru. (Satgaspen)
Lapis Baja dan Anoa TNI Kepung Lampung Tengah
Belasan kendaraan lapis baja dan APS (Angkut Personel Sedang) Anoa milik Tentaran Nasional Indonesia-Angkatan Darat (TNI-AD) singgah di Kabupaten Lampung Tengah, Selasa (28/8).
Kedatangan tank yang disertai ribuan personil TNI-AD dan peralatan tempur lainnya tersebut sebagai persinggahan sebelum terlibat dalam latihan antar kecabangan tingkat brigade Tahun 2012 di Baturaja, Sumatera Selatan.
Komandan Kodim 0411 Lampung Tengah Letkol M Ridwan mengatakan, persinggahan pasukan merupakan cek poin sebelum mengakhiri perjalanan di Baturaja. Setelah sebelumnya melakukan pergeseran dari Bandar Lampung.
"Terbanggi Besar menjadi tempat cek poin pasukan yang akan latihan antar kecabangan di Baturaja. Jadi kalau ada masyarakat yang kaget melihat tank masuk kota seperti ini kami mohon maaf atas ketidaknyamanan," ujarnya.
Ridwan juga meminta maaf bagi para pengguna jalan yang merasa terganggu selama kegiatan pergeseran pasukan hingga ke Baturaja. "Terima kasih atas kesabarannya dan partisipasi semua pihak dalam membantu kegiatan ini," tukasnya.
Hal senada juga diunggkapkan Wakapolres Lampung Tengah Kompol Takdir Matanette. "Untuk ketidaknyamanan lalulintas kami mohon maaf. Tapi ini merupakan suatu kebanggaan untuk kita. TNI mau singgah di Lampung Tengah yang sudah lama kita tidak melihat pasukan begitu banyak dan lengkap dengan persenjataan tempur," imbuhnya.
Ribuan personil TNI-AD dan peralatan tempur yang terlibat dalam latihan antar kecabangan tingkat brigade Tahun 2012 di Baturaja sebelumnya telah mendarat di Bandar Lampung. Mereka menggunakan Kapal Perang KRI-503 Teluk Amboina melalui Pelabuhan Panjang
Brigif 9 Kostrad Merebut kembali Wilayah Sumatera yang Dikuasai Negasor
Lampung Senin (27/08)
Brigif 9 Divif-2 Kostrad yang berkedudukan di Jawa Timur bergerak menuju wilayah
Baturaja Sumatera Selatan yang saat ini dikuasai pasukan negasor. Musuh atau
negasor dari wilayah Utara Laut Cina Selatan, telah berhasil memasuki wilayah
NKRI khususnya di Pulau Sumatera dan menempatkan pasukannya di beberapa wilayah
mulai dari Lampung, Palembang dan Baturaja. Kekuatan musuh yang berada di
Baturaja di perkirakan 1 Batalyon Plus.
Brigif 9 melaksanakan Serpas (pergeseran pasukan) dengan menggunakan beberapa KRI Angkatan Laut dari Tanjung Perak Surabaya menuju ke pelabuhan Teluk Panjang, antara lain KRI Teluk Parigi 539, KRI Teluk Lampung 540, KRI Tanjung Kambani 971, KRI Banjarmasin 592, KRI Teluk Ambonia 503, dan KRI Teluk Menado 537. Selain gerakan pasukan melalui laut dan darat, Brigif 9 juga diperkuat oleh Batalyon Linud 501/18/2 yang akan diterjunkan untuk melakukan infiltrasi ke daerah musuh.
Setelah mendarat di Teluk Panjang pasukan bergerak dengan farmasi kolone taktis menggunakan jalur darat menuju lokasi yang sudah diduduki musuh. Selama perjalanan pasukan mendapat gangguan baik serangan maupun ranjau dari pihak musuh. Serangan dapat diatasi oleh pasukan Brigif 9 dan terus bergerak menuju lokasi musuh. Sedangkan gangguan ranjau dapat diatasi oleh Zeni Tempur (Zipur)-10/2 Kostrad.
Setelah mendekat ke daerah sasaran Pasukan infanteri terus bergerak dilindungi oleh Batalyon Armed 12/1/2 Kostrad dengan melakukan tembakan penyokong menggunakan Meriam 105 mm ke arah musuh.
Demikian juga Kavaleri 8/2 Kostrad, Arhanud (Pertahanan Artileri Udara) -2/2 Kostrad, dan Penerbad (Penerbangan Angkatan Darat) melakukan bantuan tembakan dari darat dan udara.
Dengan adanya serangan yang melihatkan kecabangan yang ada di TNI AD, musuh dapat dihancurkan. Setelah sasaran dapat direbut, dilanjutkan dengan Operasi Mobil Udara dengan menggunakan sejumlah helikopter untuk melakukan pengejaran terhadap musuh yang melarikan diri.
Demikian skenario Latihan Antar Kecabangan TNI AD 2012 di daerah Baturaja Sumatera. Pada tahun ini TNI Angkatan Darat akan mengadakan latihan Antar Kecabangan Tingkat Brigade TNI AD. Latihan akan dilaksanakan 26 Agustus sampai dengan 4 September di Pusat Latihan Tempur Kodiklat TNI AD Baturaja Sumatera Selatan.
Latihan terbesar TNI AD selama 20 tahun terakhir ini mengambil tema “Brigade Tim Pertempuran melaksanakan operasi Militer untuk perang dalam rangka menjaga keutuhan wilayah NKRI”. Prajurit yang akan dilibatkan dalam kegiatan latihan sebanyak 6000 personel dengan menggunakan Alutsista (Alat Utama Sistem Senjata) yang akan dicoba dalam medan yang sesungguhnnya.
Satuan yang terlibat dalam latihan Brigif 9 Kostrad terdiri atas: Kompi Mekanis- A Yonif 201/Damjaya, Yonkav-8/2K, Yonarmed-12/I/2/ Kostrad, Yonarhanudri-2/2/K, Yonzipur-9/2/K, Ki Pernika Yonhub/2/K, Kibekang Yonbekang 2/2/K, Kikes-A Yonkes 2/2/K, Tonpom Kipom Div 2/K, Kipal Divif-2/K, Detasemen Penerbangan TNI Angkatan Darat, Satuan tugas penerangan Dispenad, Direktorat hukum Angkatan Darat.
Adapun tujuan latihan meningkatkan kemampuan tempur perorangan menuju terciptanya kerjasama antar kecabangan dalam Brigade Tim Pertempuran (BTP) serta menyelenggarakan Operasi tempur yang didukung operasi Sandi Yudha Intelijen dan Teritorial.(Dispenad)(TNI AD)
Langganan:
Postingan (Atom)
