Selasa, 17 April 2012

GERTAK SAMBAL AS DENGAN PENEMPATAN MILITER DI AUSTRALIA


Beberapa waktu yang lalu sekitar 200 Marinir Amerika Serikat (AS)   tiba di Darwin, Australia. Kontingen pertama itu sebagai strategi AS yang akan menempatkan 2.500 Marinir untuk meningkatkan kekuatan militer di wilayah Asia Pasifik.   Banyak yang  meyakini penempatan 2500 pasukan Marinir Amerika Serikat di Darwin, Australia merupakan gertakan AS terhadap Indnesia atas kepentingannya di Indonesia.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa AS sangat berkepentingan di Indonesia dimana sejumlah perusahaan dari AS telah beroperasi dengan perusahaan besar yang selama ini menjadi pundi-pundi penghasilan Negara agresor tersebut.  Perusahaan seperti Freeport yang ada di Papua  merupakan asset yang berharga untuk dijaga. Negera Australia merupakan tempat untuk menjadi pangkalan strategis dalam mendikte Indonesia  agar lebih mudah dikendalikan.
Kehadiran AS di Australia juga sudah pasti  berpotensi mengancam kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dengan lepasnya Papua. Bisa saja AS mendukung kemerdekaan Papua agar bisa mengontrol Freeport nya. Bila kita tidak cepat bergerak, maka 2500 pasukan tentara AS bisa mendukung Papua merdeka karena menurut informasinya  Organisasi Papua Merdeka (OPM) didukung gereja-gereja di Amerika.
Jadi kalau Australia dan AS itu mengklaim bahwa mereka adalah bagian dari Asia Pasifik dengan ikut mengamankan wilayah asia Pasifik, maka itu harus  ekstra hati-hati terhadap wilayah kita. Karena pada dasarnya mereka seolah-olah bersahabat dengan kita, tapi pada dasarnya mereka adalah   negara kolonialisme. Penempatan Marinir AS di Darwin adalah untuk menjaga rencana renegosiasi kontrak karya antara Indonesia dengan Freeport. Jadi dengan adanya renegosiasi kontrak karya antara Indonesia dengan Freeport, maka hal tersebut yang melatarbelakangi menempatkan pasukan AS di Australia.
Keberadaan pasukan AS di Darwin tersebut juga dikarenakan banyaknya desakan kepada pemerintah Indonesia untuk merenegosiasi kontrak karya Freeport oleh para aktivis dan tokoh-tokoh di Indonesia atas gejolak konflik di tanah Papua beberapa waktu lalu. Dan banyaknya protes soal renegosiasi kontrak yang selalu diteriakan olah para tokoh Indonesia maka itu menjadi kekhawatiran bagi AS itu sendiri.
Oleh karena itu, kita berharap agar  pemerintah Indonesia saat ini harus bisa lebih berani dan tegas terhadap politik bebas aktif yang menjadi panutan dalam menjalankan politik Internasional. Karena hanya dengan menjalankan   politik bebas aktif secara konsekuen maka wibawa Indonesia dimata dunia Internasional akan semakin diperhitungkan  dalam bersikap sejajar dengan negara berdaulat besar lainnya.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar